MATARAM - Pedagang gorengan dan ibu rumah tangga di kota Mataram dan sekitarnya mulai mengeluhkan tingginya harga minyak goreng curah. Kalau semula harga perkilo hanya Rp6.750 kini melambung hingga Rp8.200. Sampai Senin (14/5), stock yang tersedia untuk memenuhi kebutuhan konsumen di Lombok tersisa 24,12 ton untuk keperluan empat hari.
Tapi Pemerintah Propinsi Nusa Tenggara Barat tidak merasa panik. Sebab, kelangkaan minyak goreng berbeda situasinya dengan kelangkaan beras. Di Lombok, kebutuhan minyak goreng curah juga bisa diganti menggunakan minyak goreng kelapa lokal.
Kepala Humas Pemprop NTB Manggaukang Rabah mengemukakannya, Selasa (15/5) pagi, setelah melakukan konfirmasi dengan Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Perindag) NTB Syarifuddin. Belum ada kepastian adanya operasi pasar menunggu kebijakan pemerintah pusat dan dampak dari OP yang sudah dilakukan di empat kota besar Jakarta, Medan, Surabaya dan Makassar. Kebutuhan Lombok juga dipasok dari wilayah Surabaya. ”Untuk menyukupi kebutuhan, akan datang pasokan baru dari Surabaya 10-15 ton,” ujarnya.
Dijelaskan bahwa sehari sebelumnya Dinas Perindag NTB melakukan pemantauan harganya, Rp8.100 per kilo. Kecenderungan ini dirasakan oleh warga di Mataram sejak April lalu sewaktu ramainya perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di Lombok. Oleh Manggaukang disebutkan bahwa meningkatnya harga minyak goreng bukan karena kurangnya persediaan. Tetapi akibat dampak menaiknya harga CPO (crude palm oil) di pasaran dunia sehingga dilakukannya ekspor dari Indonesia.(supriyantho khafid)


