MATARAM - Pria tinggi 183 senti dan berat badan 81 kilogram bernama Monte Monfore, 46 tahun itu akhirnya muncul berdiri di atas pasir putih di pantai depan Hotel Vila Ombak di Gili Trawangan, Kamis (10/5) pukul 08.55 Waktu Indonesia Tengah. Ia disambut dengan kalungan bunga, sebagai tanda keberhasilannya mengarungi perairan Selat Lombok sejauh sekitar tujuh kilometer selama dua jam 10 menit dari tempat pemberangkatannya di Pantai Kecinan di Desa Malaka Kecamatan Pemenang pukul 05.45 Waktu Indonesia Tengah.
”Ini renang tersulit yang saya jalani. Difficult Swim. Strong wave. Rasanya saya hampir tidak mampu,” ujar Monte yang kelahiran Hanford California. Betapa tidak, ia harus melawan arus yang datang dari arah utara ketika ia memulai berenang dari arah selatan, pagi itu. Mahdi, 28 tahun, seorang kapten kapal Vila Ombak Diving yang digunakan untuk mengiringi perjalanannya, mengatakan seharusnya memang bukan pagi hari melakukannya. ”Sebab, berat melawan arusnya,” ucap Mahdi yang sudah 20 tahun melintasi perairan tersebut dan selama 12 tahun terakhir menjadi kapten kapal di sana.
Memang sungguh berat perjalanan pagi itu. Baru lima menit ia sudah minta minum kepada Koordinator Program Lombok Fight Hunger Swim Lita Purnomo. Walaupun sebelum turun ke air, ia sudah mengaku telah menyantap orange juice, yoghurt, pisang, papaya dan juga telur. Setiap lima menit berselang ia minta minum – macam-macam yang disiapkan mulai dari Gatorade, Pocari atau mineral sesuai yang diinginkan. Hingga 55 menit pertama ia sudah enam kali minum. Kemudian, setelah itu agak lama hingga akhirnya terhitung sembilan kali minum. ”Sepertinya saya tidak melihat pulau Gili Trawangan,” katanya mengaku beratnya melawan arus. Untungnya, akunya kemudian, sengatan ubur-ubur - yang tidak ditemui di lokasi renang lainnya - pada tubuhnya membuatnya membuatnya sadar.
Dalam perjalanan yang berat itu, untungnya ia memang disemangati oleh dua orang rekannya yang masing-masing mengarahkan kameranya ke arah pergerakan Monten. Adalah Stephen Michael asal Australia dan Dean Tolhorst serta kordinator program Lombok Fight Hunger Swim Lita Purnomo yang berteriak-teriak. ”Cepat..cepat. Kalau tidak terbawa arus balik,” kata Michael.
Monte Monfore memang sengaja memilih pemberangkatan di pagi buta. Ini adalah simbol dari kegelapan anak-anak yang menghadapi kelaparan di mana-mana yang sedang melanda dunia. Dan seperti yang direncanakan, tibanya setelah matahari terbit, sebagai pertanda keinginannya agar anak-anak yang menderita kelaparan mendapati kecerahan dan masalahnya dapat teratasi.
Ya itulah, program renang dengan judul Lombok Fight Hunger Swim yang dijalaninya untuk melakukan kampanye penanganan anak-anak yang kelaparan baik di Indonesia maupun di dunia. Katanya, setiap lima detik terdapat seorang anak yang meninggal karena kelaparan dan atau selama dua jam 10 menit dia merenangi selat Lombok tadi ada 1.500 orang anak yang meninggal. ”Ini perlu pertolongan kita semua,” ujarnya. Dan renang kali ini juga disebutnya didedikasikan untuk mamanya Carol Monfero, 73 tahun, yang baru meninggal 6 Pebruari 2007 lalu. Carol semula adalah seorang perawat yang membuat Monte bisa berenang. Ayahnya, Thomas Monfore seorang dokter ahli operasi.
Monte Monfero sendiri yang hingga kini masih membujang, sebelumnya ketika usia 18 tahun, memilih polo air di University of California di Berkeley. Sebenarnya yang dilakukan sarjana ilmu sosial ini, untuk melawan penderitaan anak-anak yang kelaparan dengan cara merenangi laut bukan yang pertama di lakukan. Sudah dua tahun tinggal berkegiatan sosial di Bali melalui kecintaannya kepada renang untuk kemanusiaan. Tujuannya untuk mendukung tugas kemanusiaan. ”Kampanye melalui renang ini effektif. Menjadikan orang lain tahu cara dan kemana membantu penanganan anak-anak kelaparan,” kata Monte yang setelah 10 tahun istirahat kembali berenang untuk kompetisi pada usia 29 tahun. Setiap tahunnya ia merenangi sejauh 80-20 kilometer.
Misalnya ia, 9 Juni 2006, sudah merenangi Selat Karimun di utara Semarang setelah adanya gempa bumi yang menghancurkan Yogyakarta. Sebelumnya, 21 Mei 2006 telah pula menghasilkan rekor menyeberangi perairan dari Bali ke Nusa Penida. Atau tiga kali ia merenangi Selat Bali yaitu dari Jawa ke Bali. Setiap kegiatan renangnya, ia mengaku jumlah pembiayaannya yang berasal dari bantuan berbagai fasilitas yang diterimanya senilai US $ 10.000 untuk berbagai keperluan. Hanya tidak dijelaskan, berapa jumlah dana yang bisa disisihkan untuk lembaga anak-anak yang dikatakan kelaparan.(supriyantho khafid)


