MATARAM - Selama bulan April 2007 ini, inflasi yang terjadi di kota Mataram 1,11 persen tertinggi diantara 45 kota besar di Indonesia. Sedangkan deflasi tertinggi terjadi di Bengkulu yang mencatat angka sebesar dua persen. Laju inflasi selama empat bulan terakhir Januari-April 2007 mencapai 4,74 persen atau lebih tinggi dari 12 bulan dalam tahun 2006 lalu sebesar 4,17 persen. Penyebab tingginya kota Mataram ini disebabkan oleh kenaikan tarif air minum hingga lebih dua kali lipat dari tarif sebelumnya terhitung April 2007.
Komoditas Air minum mencapai 0,8659 persen, disusul pisang 0,2131 persen, cabe rawit 0,1785 persen dan seterusnya hingga lebih 300 komoditas sebagai. Misalnya rumah tangga si Pulan yang bulan Maret lalu membayar Rp68.950 untuk pemakaian 84 meter kubik menjadi Rp81.900 untuk penggunaan air 98 meter kubik.
Tingginya inflasi di kota Mataram tersebut disampaikan oleh Kepala Badan Pusat Statistik Nusa Tenggara Barat (BPS NTB) Martanius Muhtar dalam keterangan pers bulanan yang digelar di kantornya, Senin (1/5). ”Cukup tinggi inflasi Mataram. Sepertinya ada gelagat kurang baik,” ujarnya. Sebab, inflasi selama empat bulan terakhir mengalahkan 12 bulan tahun 2006 lalu.
Adapun mahalnya harga pisang di pasaran Lombok disebabkan ramainya peringatan Maulid Nabi di kampung-kampung di Lombok. Dan berkurangnya produksi cabe rawit karena kembangnya rontok akibat musim hujan sehingga tidak berbuah. Buah salak pun menjadi penentu inflasi di kota Mataramyaitu sebesar 0,0238 persen.
Selain itu, BPS NTB juga memaparkan keprihatinan angka tingkat penghunian kamar hotel berbintang di daerahnya. Meskipun pada bulan Pebruari 2007 lalu terjadi peningkatan hunian kamar 27,13 persen dari bulan Januari sebelumnya 26,73 persen. ”Konon ini namanya hidup segan mati tak mau,” ucapnya. Padahal titik impas hunian kamar hotelnya adalah 40 persen. Hunian kamar di hotel berbintang selama dua tahun terkahir 2005 sebesar 34,53 persen dan tahun 2006 sebesar 40,79 persen.
Rata-rata lama menginap tamu selama dua bulan tersebut menurun dari 2,86 hari menjadi 2,68 hari atau disebut cukup ekstrim apabila dibandingkan Pebruari 2006 menurun 1,10 hari. ”Apa tidak betah menginap di Mataram ya,” kata Martanius dalam nada tanya.(supriyantho khafid)


