MATARAM - Aplaus panjang berulang kali terdengar di ruang ball room Hotel Lombok Raya, Ahad (22/4) malam. Sejumlah 300an orang menyaksikan pentas atraktif tiga pasang pedansa asal Rusia, Ukraina dan Iceland. Yana-Evgeny dari Rusia yang merupakan pedansa profesional yang secara atraktif menguasai lantai seluas 800 meter persegi dari ujung yang satu ke ujung yang lain berjarak 40 dan 20 meter memainkan Rumba, Samba, Cha Cha Cha dan Pasadoble.
Sekali waktu Yana secara enerjik bergerak bergantung di paha dan digendong Evgeny. Demikian pula dua pasang pedansa lainnya Dmytro-Olga dan Przemyslaw-Asta yang masing-masing berusia muda dibawah 30 tahun. Tidak seperti pedansa Indonesia yang kebanyakan sudah menjadi kakek nenek.
Mereka melakukan gelar extravaganza sebagai penutup Lombok International Dance Championships (LIDC) 2007 yang digelar oleh PT International Dansa Indonesia bersama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Nusa Tenggara Barat.
Ya, inilah bentuk baru cara menjaring wisatawan ke Lombok yang diprakarsai oleh Marcel De Rijk - Vice President World Dance Council dan Chairman World Social Dance Committe yang berkedudukan di London. ”Holiday and Dance. Menggabungkan hobi dansa dan liburan,” kata Marcel yang telah lima tahun tinggal di Lombok dan sudah 20 tahun mengelola dua hotel boutique dan vila miliknya.Juli mendatang, serombongan pedansa Rusia pun terjadwal akan berada di Lombok.
Adalah Yana Pokrovskaya-Evgeny Ryupin (Rusia), Dmytro Vlokh-Olga Urumova (Ukraina), Przemyslaw Piotr Lowicki-Asta Sigvaldadottir (Iceland) yang selama satu jam secara bergantian tampil dalam atraksi puncak memukau penonton - yang harus membayar ticket masuk Rp150 ribu, Rp200 ribu dan Rp300 ribu - diantaranyanya 30an pedansa Indonesia, Hongkong dan Ukraina yang ikut meramaikan menjadi peserta LIDC 2007 tersebut. Termasuk pula dua orang disc jockey dari Belanda selain juri diantaranya Svyatoslav Vlokh (Ukraina), Walter Wat (Hongkong) dan Ratna De Rijk De Haas (Belanda).
Sebelumnya, pada kompetisi 9 yang merupakan International Star 4-dance meliputi Waltz, Tango, Quickstep & Foxtrot turun pasangan Woo Man Fong-Chui Fung Han dan Chan Hon Ming-Yip Shuk Ching dari Hongkong, dan Andrew Yow-Rita Raharjo (Jakarta) bersaing dengan pasangan muda Denys Samson-Veronica Prybok (Ukraina) ng yang tampil bergerak berputar meliuk-liuk menguras tenaga.
Selain itu, kompetisi LIDC yang meliputi 17 kategori yaitu sembilan standard atau Ball Room Dance dan delapan Latin - American Dance. Standard terdiri Beginner Waltz, Beginner Tango, Beginner Quickstep, Novice 2-dance (Waltz & Tango), Pre-Amateur 3-dance (Waltz, Tango & Quickstep), Senior Waltz, Senior Tango, Senior 3-dance (Waltz, Tango & Quickstep), Youth 5-dance (Waltz, Tango, Quickstep, Viennese Waltz & Foxtrot). Youth 5-dance (Cha Cha, Rumba, Jive, Samba & Paso Double), Beginner Cha Cha, Beginner Rumba, Beginner Jive, Novice 2-dance (Cha Cha & Rumba), Senior 3-dance (Cha Cha, Rumba & Jive), Pre Amateur 3-dance (Cha Cha, Rumba & Jive) dan International Star 4-dance (Cha Cha, Rumba, Jive & Samba).
Pada akhir acara tersebut, Marcel De Rijk yang telah berpengalaman 40 tahun di dunia dansa dan memiliki sertifikat FDO (Federation Dance Teacher Organization) Diploma Holland dan United Alliance Diploma yang juga seorang juri kelas dunia dari World Dance Councul Licence, menyerahkan sertifikat The Australian National Dance Association Diploma dan The World Dance Council International Dance Teacher Diploma predikat memuaskan sebagai guru dansa profesional untuk Andi Prasetio, 22 tahun, orang pertama dari Indonesia. Lainnya, Sumelia juga menerima sertifikat sebagai asisten guru dansa dari The Australian National Association Diploma.
Bagi pedansa Indonesia seperti Heru Susantio bersama istrinya Anita Gina Dinasih (Surabaya) dan Nanang Djoehana Djoewari dan istrinya Sita (Jakarta), kemenangan bukanlah utama. Mereka yang harus membiayai sendiri perjalanannya, ticket, hotel dan lainnya hingga lebih Rp5 juta, Mereka juga harus membayar biaya pendaftaran hingga empat kelas yang diikutinya masing-masing Rp100 ribu.
Nanang Djoehana Djoewari, 55 tahun dan istrinya Sita, 46 tahun, yang telah memiliki cucu ternyata baru lima tahun mengenal dansa, penampilannya terlihat cerah dan menikmati dalam pergerakan dansanya. ”Saya sebenarnya telat,” ucapnya yang menyebut semula sebagai aktivitas sosial. Menurutnya pula, dansa itu adalah hobi yang mahal. Setahun, ia bekeliling kota-kota besar untuk menyalurkan hasratnya melantai. Katanya, kegiatan lomba dansa ini mulai marak dan diharapkannya akan semakin bertambah banyak.
Heru, 51 tahun, yang sehari-harinya direktur perusahaan pupuk mengaku mulai menjadi pedansa sejak 1990. ”Saya ikut dansa sambil mendengarkan musik untuk menghilangkan stres. Kalau tidak dansa rasanya pegal kaki,”’ ujarnya. Ia sudah melanglang buana mengikuti dansa antara lain di Singapura dan Australia. Ia menikmatinya sebagai hobi.
Pengurus Ikatan Olahraga Dansa Indonesia yang hadir menyaksikan LIDC tersebut, Tanto Sudiro, menyatakan bahwa penyelenggaraan kegiatan dansa semakin banyak dan digemari. Bahkan, tahun lalu di Malioboro Yogyakarta pernah diselenggarakan Dancing on the Street. Dan di Universitas Indonesia telah dijadikan ekstra kurikuler. ”Tahun depan juga menjadi cabang olahraga yang dipertandingkan dalam PON di Kalimantan Timur,” katanya.(SUPRIYANTHO KHAFID)


