MATARAM - Langkah kaki pria bertubuh tinggi 190 sentimeter dan berat badan 90 kilogram itu mengikuti irama musik. Penampilannya enerjik walaupun usianya usia sebenarnya sudah mencapai 60 tahun. Ini karena, sejak berusia 13 tahun ia telah menyukai dansa. Dansa itu untuk kesegaran. Bisa tidak tampak kelihatan tua karena selalu bergerak.
Demikianlah Marcel De Rijk, seorang pedansa profesional asal Utrecht Belanda mengemukakannya, belum lama ini. Kamis (19/4), ia merayakan pesta ulang tahunnya dan sekaligus ulang tahun ke-20 hotel boutique Puri Mas yang dimilikinya di Mangsit Lombok Barat. Rencananya, Ahad (22/4) di Mataram, diselenggarakan Lombok International Dance Festival yang diikuti oleh pedansa asal Eropah dan Asia.
Dikatakan bahwa dansa itu bagus untuk kesehatan, walaupun bukan merupakan merupakan senam fisik atau erobik, sebab dansa adalah juga olahraga Tidak hanya dalam bentuk Latin Dance atau Ball Room semata tetapi juga free style, rock and blues dan hip hop.
Adapun jenis style dari Latin Dance yaitu Cha Cha Cha, Rumba, Samba, Jive, Pasadoble (Spanyol). Sedangkan Ball Room terdiri Slow Waltz, Tango, Slow Foxtrot, Viena, Waltz.. Karena itu, dalam lomba dansa yang dipertandingan merupakan paket 10 ronde dansa. Namun ada pula terpisah yaitu World Ball Room Champion, World Latin Champion dan Ten Dance Champion.
Menurutnya, dansa merupakan aktivitas pergaulan sosial yang populer di negeri barat. Sebagai kegiatan sosial yang menimbulkan perasaan enjoy diminati generasi muda hingga usia dewasa. ”Dansa itu emosi dan feeling,” ucapnya. Ekspresi langkah mengikuti irama musik. Ada saat sedih, gembira bisa meluapkannya dalam langkah sendiri tanpa seorang pedansa lain sebagai pasangannya.
Maka tidak mengherankan kalau tiga sekolah dansa Dance Master De Rijk yang dikelolanya setiap minggu di Utrecht dibanjiri sekitar 5.000 peserta. Setiap harinya, per sekolah ada tiga kelas - selama 1,5 jam - yang diisi masing-masing 80 orang walaupun harus mengeluarkan biaya 10 Euro per orang atau kalau di Lombok dipungut biaya Rp25 ribu per orang setiap 2,5 jam latihan.
Dialah, jabatannya Vice President World Dance Council dan Chairman Social Dance yang kesemuanya berkedudukan di London, yang sejak lima tahun terakhir tinggal di Lombok, kini membuka sekolah dansa di Puri Mas Village – salah satu hotel lainnya di Mangsit Lombok Barat. ”Dancing is my life, dedicated,” ucap Marcel De Rijk, pewaris sekolah dansa Dance Master De Rijk keturunan dari Henk De Rijk tetapi ibunya adalah Alida Ratnawati, seorang wanita yang dilahirkan dari pria asal Yogyakarta Raden Mas Aliman sewaktu kuliah hukum Utrecht University.
Sekolah Dansa
Semula ingin menikmati hidup di Lombok, Marcel De Rijk akhirnya membuka Lombok International Dance Studio (LIDS) di kawasan Puri Mas Village di Krandangan Lombok Barat sejak lima tahun lalu. Sebenarnya, Marcel sudah 20 tahun memiliki usaha hotel boutique Puri Mas. Tetapi waktu itu masih sibuk mengelola sendiri sekolah dansanya di Utrecht Belanda. Rencananya, Juni 2007 nanti, ia juga membuka kelas baru di Mataram.
LIDS dibuka memenuhi permintaan relasinya yang mengetahui dirinya adalah seorang pedansa profesional yang pernah meraih juara III World Dance Championship di London bersama pasangannya, adik kandungnya sendiri Ratna De Rijk. ”Tadinya adanya tiga orang yang meminta belajar private,” ujarnya, Jum’at (20/4) petang. Marcel juga Vice President World Dance Council dan Chairman World Dance Society yang berkedudukan di London.
Akhirnya, dibantu oleh Andi Prasetio, 21 tahun, anak didiknya, menempati sebuah ruang berukuran lebar enam meter dan panjang 12 meter, secara terjadwal mengajar hingga 50 orang belajar dansa Ball Room, Latin dan Line - tanpa pasangan. Di sana baru mampu menampung 15 pasangan. Nantinya di Mataram, dibantu seorang relasinya pemilik fitness center menggunakan ruang berukuran panjang 20 meter dan lebar 10 meter yang dapat menampung 30 orang berpasangan. Sekarang ini, jumlah waktu yang tersedia mencapai 25 jam per minggu. Biaya belajarnya perjam-kelas Rp50 ribu per orang.
Untuk belajar dansa tersebut, waktu yang dibutuhkan tidak terbatas. Mereka akan diuji kebisaannya melalui jenjang kategori Bronz untuk pemula, selanjutnya Silver, Gold, dan Amateur. Sedangkan uang ujiannya Rp120 ribu dan bisa lebih mahal tergantung siapa pengujinya yang didatangkan dari luar. Marcel juga mengajar pelatihan khusus untuk mereka yang hendak mengikuti kompetisi.
Andi Prasetio ikut menjelaskan bahwa yang belajar di tempatnya dari berbagai kalangan namun kebanyakan adalah perorangan yang latar belakang kehidupannya cukup berada. ”Sebenarnya banyak ibu-ibu yang ingin belajar tapi tidak pernah datang,” ucap Tio - panggilannya sehari-hari.(supriyantho khafid)

