MATARAM - Sepanjang Ahad (15/4) sore pukul 15.00 Waktu Indonesia Tengah hingga malam hari, hampir seluruh desa di wilayah Kecamatan Empang Kabupaten Sumbawa mengalami kebanjiran akibat hujan terbesar selama 24 tahun terakhir ini yang terus menerus turun sejak Sabtu (14/4). Akibat luapan sungai Brang Pria, Brang Kesaming dan Brang Laruju, enam SD dan 1 Madrasah Ibtidaiyah tergenang, 22 unit rumah hanyut dan dua orang dilaporkan hilang. 37 kepala keluarga atau 190 jiwa warga Desa Ongko diungsikan ke gedung sekolah Madrasah Tsanawiyah dan tujuh orang pasien Puskesmas Empang juga dipindahkan ke rumah penduduk yang tidak digenangi air.
Menurut informasi yang disampaikan oleh Husnanidiaty - seorang pejabat Badan Urusan Ketahanan Pangan Nusa Tenggara Barat - yang melintas di jalan raya Empang menuju Dompu, Ahad (15/4) malam, keadaan mencekam. Ketinggian air hingga selutut. Di daerah bantaran sungai tingginya hingga tiga meter. Barang-barang rumah tangga diantaranya lesung milik penduduk banyak terlihat mengapung. ”Kami harus pelan-pelan mengikuti pemandu di jalan. Banjir menyebabkan lintasan jalan raya macet,” ucapnya, selepas maghrib.
Untuk menghindari kecelakaan, kendaraan yang melintas di jalur padat Mataram-Bima tersebut harus pelan-pelan. Akibat banjir tersebut, pembangkit listrik PLN di sana dimatikan. Situasi menjadi gelap. Saluran PDAM pun tidak mengalirkan air.
Sesuai informasi dari Camat Empang Agus Mustamin, 15 rumah penduduk yang dihanyutkan banjir tersebut tiga di Desa Jotang, tiga di Desa Empang Atas, tiga di Desa Empang Bawah dan tiga di Desa Ongko. ”Laporan yang saya terima ada dua orang yang dihanyutkan banjir,” katanya. Untuk mencegah adanya tambahan korban, penduduk diminta untuk waspada kemungkinan terjadinya banjir susulan. Wakil Bupati Sumbawa M Jabir sudah mendatangi lokasi banjir dan melakukan kordinasi untuk penanganannya. (supriyantho khafid)


