MATARAM - Gelanggang Olah Raga (GOR) untuk bermain bulu tangkis menjamur di Mataram. Padahal investasinya mencapai miliaran rupiah. Gedungnya layak untuk kejuaraan resmi, namun peminatnya banyak yang bermain bukan untuk prestasi. Tetapi tidak sedikit calon atlit yang berlatih di sana.
Sampai saat ini, telah ada lima GOR yang dibangun oleh perorangan dan disewakan. Sedangkan yang menggunakan fasilitas gedung milik pemerintah jumlahnya ada 10. Bangunan milik perorangan yang tersebar di sekitar Mataram diantaranya GOR Bintang di Pagesangan, Nicky di Majeluk, Putra Gora di Selag Alas, dan Tanjung Karang. Sedangkan fasilitas GOR milik pemerintah diantaranya adalah Gelanggang Pemuda, GOR 17 Desember, Mayura.
Adalah GOR Bintang di Pagesangan yang baru setahun dibangun oleh Sang Made Beratha, 65 tahun, seorang pengusaha pengerah TKI pemilik PT Bayu Satria Dewi. Ia membangun dengan modal lebih Rp500 juta mendapatkan gedung yang memiliki 4 line lapangan di atas lahan seluas tujuh are berukuran panjang 33 meter dan lebar 22 meter yang tinggi gedungnya 13 meter, belum termasuk lahan parkir seluas 15 are. Katanya, ia membangun untuk memenuhi minat masyarakat yang memiliki hobi berolahraga bulu tangkis. ”Sebenarnya pengembalian modalnya agak lambat bisa sampai tujuh tahun,” katanya.
Ketua Pengda Persatuan Bulu Tangkis Indonesia Indonesia Nusa Tenggara Barat (PBSI NTB) Junaidin Yaman secara pribadi juga memiliki GOR berukuran panjang 36 meter dan lebar 30 meter setinggi 10 meter. Ada 8 line lapangan di sana. Gedung yang terletak di pinggiran barat kota Mataram tersebut dibangunnya sejak 1995. Nilainya waktu itu tidak sampai Rp500 juta. Tetapi sekarang ditaksir mencapai Rp4 miliar. ”Waktu itu susah berlatih karena lapangannya menumpang,” ucapnya. Padahal, diperlukan untuk keperluan program pusat pendidikan dan latihan PB PBSI.
Pembiayaan GOR ini, dikatakan oleh Junaidin Yaman, sebenarnya kalau menggunakan dana sendiri bukan pinjaman bank, tidak berat. Dihitungnya, nilai investasinya tidak susut bahkan naik. Sewa lapangannya, memang tidak sepenuh waktu. Sebab, pada pagi hari umumnya kosong terkecuali Sabtu dan Ahad. Di tempatnya, sewa pemakaian lapangan dihitung sekali main satu sesi tiga jam dikenai tarif Rp25 ribu.
Sedangkan di GOR Bintang, tarifnya per sesi tiga jam sekali main dipungut biaya satu jam Rp10 ribu. Tetapi, untuk para calon-calon atlit yang diharapkan bisa muncul sebagai pemain handal, Sang Made Beratha memberikan keringanan kepada Persatuan Bulu Tangkis Gemilang yang diorganisir lima orang bekas pemain yang pernah berprestasi dari NTB, antara lain Lalu Firmansyah dan dibantu Ria Sulistyawati - yang bersama Baiq Santi pernah juara ganda putri ke-3 Kejuaraan Aqua di Surabaya. PB Gemilang melatih 36 orang anak-anak usia SD dan SMP empat kali seminggu. ”Kami memperoleh keringanan untuk memakai lapangan,” katanya.
Biaya rendah apabila menggunakan lapangan terbuka seperti di kampung Pejeruk Abian Kompleks Kebun Kopi Ampenan yang per kelompoknya sebulan dipungut Rp25 ribu namun bisa tiga kali seminggu bermain. Tetapi lapangannya dibuat sendiri dengan biaya Rp1 juta menempati halaman milik warga setempat.
Sebagai orang yang bermain bulutangkis bukan untuk mengejar prestasi, seorang warga Pagutan Fairuzzabadi dari PB Kabah yang bermain setiap hari Sabtu di GOR Bintang mengaku untuk kesegaran tubuh. ”Kami memerlukan bermain bulu tangkis agar sehat,” ucapnya.(supriyantho khafid)


