MATARAM - Gara-gara program jurusan Seni Rupa dan Pendidikan Guru Taman Kanak-Kanak (PGTK) yang sudah berlangsung dua semester ditutup, puluhan mahasiswa IKIP Mataram, melakukan protes dengan cara memboikot kegiatan dan menduduki kampus, Senin (9/4). etelah orasi para mahasiswa mengusir dosen dari kampus dan memboikot seluruh kegiatan kampus. Akibatnya, sejumlah mahasiswa yang sedang melaksanakan ujian skripsi di Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan (FPOK) turut terhenti.
Aksi protes kebijakan yang diambil oleh Rektor IKIP Mataram, Lalu Said Ruhpina tersebut, mengeluhkan kerugian yang dialami mahasiswanya selain waktu juga biaya lebih Rp2 juta per semester.
Salah seorang mahasiswa yang merasa dirugikan, Muhammad Hasan mengaku banyak dirugikan kebijakan tersebut. Sewaktu mendaftar membayar Rp1,3 juta dan biaya SPP per semester Rp700 ribu.”Jelas saya dan teman-teman dirugikan,” ujarnya.
Mereka yang merasa dirugikan tersebut menilai kebijakan penutupan program Seni Rupa dan PGTK itu berkaitan dengan polemik kepemimpinan yang masih terjadi di IKIP Mataram. Sebab, jurusan yang ditutup itu merupakan program baru yang dikeluarkan oleh pejabat rektor sebelumnya, Fathurahim.
Saat ini SK pemberhentian dan pengangkatan rektor IKIP Mataram yang menjadi transisi antara HL Said Ruhpina dan Fathurahim, masih dalam tahap sidang di pengadilan, setelah tim kuasa hukum Fathurahim melayangkan gugatan perdata. Putusan Pengadilan Negeri Mataram menyatakan SK itu cacat hukum dan mengabulkan gugatan Fathurahim, namun pihak tim kuasa hukum Yayasan Pembina IKIP Mataram masih mengajukan banding.
Muhammad Hasan pun menyatakan menolak keputusan penutupan dua jurusan tersebut karena merasa dikorbankan. Dalam tuntutan mereka, para mahasiswa meminta Pemerintah Propinsi Nusa Tenggara Barat mengambil alih IKIP Mataram, selama proses hukum dan polemik kepemimpinan itu berjalan.
Seorang dosen Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan Sunarto menyesalkan aksi tersebut menghalangi terselenggaranya ujian. ”Sangat saya sayangkan. Seharusnya melakukan dialog kalau menyampaikan aspirasinya,” kata Sunarto.
Belum ada penjelasan resmi dari pihak IKIP Mataram tentang unjuk rasa mahasiswa itu. Sunarto sendiri tidak bersedia memberikan keterangan, sementara rektor dan pejabat lainnya tidak ditempat.(supriyantho khafid)


