MATARAM - Selama dua hari, Rabu-Kamis (4-5/4), berbagai mahluk besar bermunculan di Lingkungan Arong-Arong Timur Kelurahan Dasan Agung di Mataram. Tidak sedikit anak-anak yang menangis ketakutan melihatnya. Ada nenek sihir yang membawa kapak, ada pula mahluk primitif yang tubuhnya berwarna hijau, juga mahluk kodok bergigi besar tampak mengerikan. Belum lagi sang naga yang melilit di sekitar tubuh macan. Tetapi ada juga yang tampak tidak menyeramkan. Adalah sebuah mobil jip berwarna merah, beberapa sepeda motor besar, ayam jago.
Kesemuanya, jumlahnya ada 12. Tidak berjalan sendiri namun diangkat oleh puluhan remaja yang mengusungnya sambil mengikuti irama musik yang mengumandang dari peralatan suara yang besar-besar. Praja (diucap praje) itu memang tandu yang dimodifikasi dalam berbagai bentuk. Di Lingkungan Arong-Arong Timur digunakan untuk mengusung anak-anak yang akan disunat maupun yang baru selesai disunat.
Itulah kegiatan yang mewarnai perayaan Maulid Nabi di kampung Sasak di tengah kota Mataram. Kemeriahan lokal perayaan Maulud Nabi Muhammad SAW berlangsung khas dan unik. Rabu (4/4) malam dan berlanjut Kamis (5/4) siang di Lingkungan Arong-Arong Timur Kelurahan Dasan Agung Mataram berlangsung arak-arakan Praja - tandu hias - yang dinaiki anak-anak. Tahun ini, jumlahnya 12 buah mengelilingi desa sejauh kurang lebih dua kilometer selama lima jam.
Sesuai kreasinya, praja berupa macam-macam bentuk. Kalau awalnya – pada zaman dua puluhan tahun lalu kreasinya hanya berupa onta, gajah atau masjid diiringi musik rebana. Kini telah berubah menjadi berbagai macam bentuk. Ada berbentuk binatang seperti laba-laba dan singa dan serigala, ada motor trail atau jenis kendaraan jip. Praja-praja ini digotong oleh puluhan remaja pria sembari mengikuti irama musik dari sound sistem yang menyertainya mulai dari lagu-lagu dangdut hingga musik metal.
Kepala Lingkungan Arong-Arong Timur Sahribudin menyatakan setidak-tidaknya, pembuat praja harus mengeluarkan biaya Rp500 ribu. Sewa peralatan suaranya saja Rp250 ribu. Belum termasuk biaya pembuatan praja dan juga keperluan konsumsi mereka yang ikut mengangkut praja-praja tersebut. ”Ini tradisi kemeriahan disisi lain dari kegiatan ritualnya di masjid,” ucapnya.
Praja - yang berasal dari kata raja yang dielu-elukan disanjung-sanjung oleh rakyatnya. Praja ini dinaiki oleh seorang anak yang hendak disunat dianggap sebagai raja oleh para orang tuanya. Jadi, karena itu, anak-anak yang hendak dikhitan, dipikul sebagai raja untuk membesarkan hatinya karena ketakutan hendak dikhitan. ”Untuk mengambil hatinya agar tidak takut, maka dibuatkan hiasan praja agar tidak gentar menghadapi sunatan itu,” katanya. Dan tentu saja, tandu yang semula berbentuk sederhana berupa kursi yang dihias dalam perkembangannya selama kurun waktu belasan tahun terakhir, telah mengalami modifikasi.
Selain arak-arakan praja ini, sebelumnya beberapa malam juga dilakukan lomba bernuansa keagamaan dilangsungkan untuk anak-anak, Kamis (5/4) siang, juga ada prosesi cukuran anak-anak bayi dan tamatan (khatam) Al-qur’an yang dilakukan pada perayaan Maulid Nabi untuk mendapatkan barokah. Acara yang berlangsung di masjid, diakhiri dengan penutup yaitu kenduri dilengkapi nasi rasul - yang berupa nasi ketan diberi serundeng, jajan khas Sasak berupa wajik, renggi dan jajan angin-angin yang terbuat dari ketan diberi gula.
Suasana ramai di Lingkungan Arong-Arong Timur Kelurahan Dasan Agung yang terletak di tengah kota Mataram ini, berlangsung sejak Rabu (4/4) sore. Bagi warga yang mampu, mereka menyelenggarakan kenduri yang diawali Dzikir dan bahkan diantaranya melakukan pembacaan kitab Barzanji. Kemudian pada malam harinya dilakukan arak-arakan Praja untuk anak-anak yang hendak disunat.
Sebenarnya, tradisi merayakan Maulid nabi di kampung-kampung di Lombok terus berlangsung. Kemeriahannya bisa sama dengan perayaan 17 Agustusan. Suasana Maulid tidak hanya menyebabkan harga daging menjadi mahal tetapi juga bisa mempengaruhi sepinya pasar, karena banyak pedagang yang tidak berjualan.
Secara umum, di Lombok, perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW memang berlangsung di mana-mana. Mulai dari masjid di kampung hingga ke kota. Selain acara ritual, juga tradisi setempat mewarnainya. Ada dua hal yang menonjol. Pertama, warga kampung mengundang berkunjung kerabatnya untuk datang ke rumahnya - bagaikan silaturahmi lebaran Idul Fitri - menikmati hidangan Nasi Rasul yang terbuat dari ketan yang dikukus menggunakan santan menjadi berwarna kuning dilengkapi lauk opor ayam dan serundeng yang disiapkan. Kedua, adanya arak-arakan praja - tandu untuk menggotong anak-anak yang akan dikhitan.
Untuk diketahui, masing-masing lingkungan menyelenggarakan sesuai jadwalnya sendiri bergilir sehingga tidak pernah bersamaan waktunya. Di Lingkungan Arong-Arong Timur Kelurahan Dasan Agung yang terletak di tengah kota Mataram ini, perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW berlangsung sejak sore. Bagi warga yang mampu, mereka menyelenggarakan kenduri yang diawali Dzikir dan bahkan diantaranya melakukan pembacaan kitab Barzanji.(supriyantho khafid)


