MATARAM - Hotel- hotel berbintang di Lombok sedang mengalami paceklik, kekeringan tamu. Rata-rata hunian kamarnya hanya 20 - 30 persen. Ini akibat cuaca yang menyulitkan transportasi ke Lombok. Untuk musim ramai Juni - Juli pun belum diperoleh reservasi yang meyakinkan. Kondisi ini diakui oleh kalangan manajemen hotel sangat menyedihkan.
Manager Puri Mas - hotel boutique - Sara Sanders dan Manajer Public Relation (PR) Holiday Resort Rahayu P Lestari selaku anggota Lombok Hotel Association (LHA- Asosiasi Hotel Lombok) mengemukakannya secara terpisah sewaktu dihubungi LombokNews, Senin (26/3) siang. ”Anjlok sekali.Sangat rendah hunian kamar hotel,” kata Rahayu P Lestari yang juga menangani PR LHA - anggotanya 16 hotel berbintang di Lombok yang memiliki sekitar 1.000 kamar. Padahal, idealnya hunian kamar hotel setidak-tidaknya adalah 45 persen dari jumlah kamarnya.
Merosotnya angka kunjungan wisatawan ke Lombok terjadi setelah berakhirnya liburan tahun baru. Menurut Sara Samders, hanya dua kamar dari 17 unit kamar di hotel boutique-nya yang terisi. ”Lombok sepi sekali,” ujarnya. Rencananya, baru April mendatang akan ada 15 travel agent yang datang untuk menjajaki pasar wisata Lombok dari Singapura dan Johor setelah LHA bekerja sama dengan maskapai penerbangan Silk Air - dari kelompok Singapore Airlines - bertemu di Singapura bulan Pebruari lalu.
Manajer Silk Air di Mataram Soepit Arif Barata mengatakan bahwa kerja sama yang dilakukan oleh Singapore Airlines dengan mempertemukan anggota LHA dengan 15 pengusaha perjalanan wisata di Singapura dan Johor Malaysia - yang jaraknya perjalanan darat hanya 45 menit. ”Disana banyak pekerja asing yang diharapkan berlibur ke Lombok,” ucapnya juga kepada LombokNews yang menghubunginya. Selama ini penumpangnya berasal Eropah, Korea dan Jepang.
Soepit mengemukakan bahwa rendahnya wisatawan yang berkunjung ke Lombok menyebabkan dikuranginnya jadwal penerbangannya langsung dari Singapura ke Mataram menjadi tiga kali seminggu. Padahal sebelumnya pernah hampir setiap hari dan terakhir, April 2006, tersisa empat kali seminggu. Kini, 118 seat dari Airbus 319 yang digunakannya hanya terisi 67 persen.
Selama enam bulan terakhir ini, Silk Air juga bekerja sama dengan Garuda yang memperoleh jatah memasarkan 20 seat. Manajer Silk Air Mataram Soepit Arif Barat menyebutnya Joint Service Agreement. Menurut General Manager Garuda Mataram Muhammad Frederik Kaisiepo, setiap kantor Garuda menjual rute ke Lombok. ”Dari dan ke Mataram yang ingin langsung bisa membeli melalui Garuda tetapi menumpang Silk Air,” kata Frederik. Sebab, selama ini penumpang Garuda yang ingin ke Lombok dari negaranya melalui Jakarta. Setelah adanya kerja sama tersebut, mereka ke Lombok terbang dari Singapura.(supriyantho khafid)




