MATARAM - Ketua LSM Forum Kota Sawama Imanuddin Opet Budjik menyatakan rendahnya investasi di Kabupaten Sumbawa berdampak peningkatan kemiskinan. Terutama, masyarakat yang selama ini hidup akibat seringnya terjadi. Disebutnya bahwa hasil survey sosial ekonomi tahun 2004 menunjukan angka kerja 15 tahun sebanyak 254.703 jiwa. Sementara yang terserap lapangan kerja di Kabupaten Sumbawa sebanyak 3.947 jiwa. Sehingga tenaga kerja yang belum terserap sebanyak 12.168 jiwa.
”Ini menjadi problema sosial ekonomi terhadap pertumbuhan dan pemerataan hasil pembangunan. Terutama tenaga kerja usia produktif,” ujar Obet Budjik - panggilannya sewaktu bergabung bersama 100an orang anggota LSM Pro Investasi Tambang Tana Samawa mendatangi Bupati Sumbawa Djamaludin Malik, di kantornya, Selasa (20/3).
Menurut jebolan Akademi Keuangan dan Perbankan (AKABA) di Mataram tersebut,rendahnya investasi berdampak pada kemampuan Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang tahun ini hanya sebesar Rp 17,9 miliar. PAD Sumbawa masih ditopang bantuan dana pusat melalui dana perimbangan, belum menunjukkan jumlah yang ideal, karena masih di bawah 25 persen.
Menyikapi persoalan tersebut, dalam pernyataan sikap yang disampaikan LSM Pro Investasi Tambang dalam aksinya, menyatakan untuk peningkatan kesejahteraan rakyat terhadap pertumbuhan dan pemerataan hasil pembangunan di Sumbawa maka keberadaan investasi merupakan solusi nyata. ”Untuk menjawab persoalan pengangguran, kemiskinan dan lemahnya nilai fiscal Kabupaten Sumbawa,” katanya.
Selain itu, menurut LSM Pro Tambang, sangat penting dilakukan optimalisasi, intensifikasi dan diversifikasi pelbagai potensi dan peluang. Karenanya, harus dimaksimalkan secara serempak dengan kerja keras dan kerja terpadu pemangku kepentingan atau pihak terkait. ”Mari kita ciptakan kondisi aman, tertib, nyaman demi kegiatan investasi untuk kepentingan dan kesejahteraan masyarakat,” kata Imanuddin Opet Budjik.(supriyantho khafid)


