MATARAM - Pelabuhan Ampenan. Siapa yang tidak mengenalnya. Para pengusaha utamanya di Surabaya pasti mengenalnya. Sebab, itulah pelabuhan utama yang mengalirkan segala komoditi pertanian dari Lombok ke segala penjuru nusantara. Tapi kini tiada lagi hiruk pikuk. Sudah 30 tahun telah ditinggalkan kapal yang beralih berlabuh ke tempat lain. Bangunan di sekitarnya pun menjadi gudang-gudang yang kosong.
Salah satu gudang tua itu berada di pinggir pantai itulah, kini para seniman Mataram bisa menampilkan karya-karyanya. Sebuah ruang berukuran 2500 meter persegi telah disulap menjadi galeri Institut Rumah Arus. Sabtu (10/3) siang, galeri tersebut dibuka dan diresmikan.
Setelah Baiq Adnin - istri Gubernur Nusa Tenggara Barat Lalu Serinata - membuka pintu galeri tersebut, disambut Performance Art oleh Vita Valesca - seorang dosen Institut Kesenian Jakarta - yang menari diiringi gamelan dari Ki Dalang Gendeng Rusmady. Sebelumnya juga ada pentas Tari Nguri dari Sanggar Lonto Engal Sumbawa. Hadir, puluhan pelaku seni antara lain Tarfi Abdullah, Joko Prayitno dan Kepala Taman Budaya Lalu Fathurahman.
Ada puluhan karya lukis menghiasi dinding yang kini berwarna krem tersebut. Sebuah karya natural berjudul Gadis Penenun yang bertelanjang dada (Anshory), Penjual Serabi (Bangun Asmoro), Jangan Bicara Kecuali Madu (Wiji Paminto Rahayu). Kemudian lainnya, adalah karya lain kontemporer yang berjudul Melihat Kedepan dan Kebelakang (M Ruslan) yang berisi juntaian kaki-kaki wanita diantara sais di atas dokar dan dua kepala kuda saling berhadapan. Adapula karya lukisan Husin Nanang berjudul Temukan Jodoh yang menggunakan limbah pantai dari kerang dan pecahan kaca.
Gudang yang disulap menjadi lokasi galeri ini semula ditawarkan oleh seorang berkewarga negaraan Belanda Gus Wimpers. ”Bangunan ini sangat menarik,” kata Paox Iben. Direktur Rumah Arus tersebut mengemukakan bahwa galeri ini, digunakan tidak hanya untuk kepentingan pelaku seni saja. Tetapi juga menjadi laboratorium besar masyarakat sekitarnya. ”Di sini juga akan dilakukan kajian budaya dan transformasi sosial,” ucapnya.
Sebab, itu tadi, dari semula lokasi pelabuhan yang demikian terkenal di dunia, masyarakatnya yang identik keras diharapkan melalui seni bisa berbudaya. Memang di sana juga tidak sekedar menjadi ruang pamer lukisan. Rumah Arus membuka kelas lukis, teater, tari. Sebab, hal ini menjadi penting untuk masyarakat yang diajak ikut memikirkan banyak hal. Mengubah cara pandang mereka sebagai moda produksi. ”Yang menyenangkan dan membahagiakan mereka,” katanya. Tidak sekedar ramai.
Kalau di pinggir pantai pada waktu-waktu tertentu menjadi tempat penyelenggaraan pentas dangdut untuk menjadi hiburan masyarakat di sekitar Ampenan. Maka sudah dijadwalkan, galeri ini bakal juga dijadikan fasilitas lokasi berkegiatan. Yaitu mementaskan atraksi seni, pameran para pelukis dari berbagai kota di Indonesia Yogyakarta, Bandung, Jakarta secara bergilir. Bahkan temu sastra Nusantara juga telah didaftar diselenggarakan di sini. Atau gelar Indie Movie, seni rupa dan patung nasional. Organisasi Non Pemerintah World Wide Fund juga menjadwalkannya menjadi lokasi kegiatan masalah lingkungan.
Tak kurang, Komisaris Besar Pol Lalu Suprapta - sehari-hari menjabat Wakil Kepala Kepolisian Daerah NTB, pemerhati seni, ikut pula diaulat berbicara sebelum diresmikan. ”Saya senang, kegiatan berkenian di sini banyak dilakukan oleh banyak organisasi,” ucapnya. Betapa tidak. Berdirinya Rumah Arus ini juga diiringi kegiatan Lumbung Amal untuk kepentingan pembiayaan pendidikan anak-anak yang tidak berkemampuan materi. Sebab, sudah ditetapkan bahwa setiap pendapatan dari kegiatan di sana, juga ada penjualan buku, cafe, restoran, akan disisihkan sebesar 10 persen.(supriyantho khafid)


