MATARAM - Untuk keselamatan pelayaran kapal feri penyeberangan lintasan Lembar Lombok Barat - Padangbai Bali, sepanjang Rabu (7/3) siang ditiadakan. Jadwal pemberangkatan yang mestinya setiap 1,5 jam diberlakukan sesuai cuaca. Tinggi gelombang mencapai lima meter dan kecepatan angin hingga 30 knot atau 60 kilometer per jam.
Menurut Budi dari kantor Pelabuhan Angkutan Sungai Danau Penyeberangan (ASDP) Lembar, pemberangkatan kapal terakhir pukul 08.30 Waktu Indonesia Tengah (Wita) setelah pemberangkatan pertama pukul 05.30. Selama dua jam tersebut diberangkatkan empat kapal. Sebaliknya dari Padangbai hanya dua unit kapal yang berangkat. ”Pemberangkatan dilakukan sewaktu-waktu tergantung cuaca,” ujarnya. Sebelumnya, sepanjang Selasa (6/3) sore dan malam hari dihentikan penyeberangannya.
Secara terpisah, Manajer Operasi ASDP Lembar - Padangbai Aswin, ada kapal feri yang diberangkatkan dini hari terpaksa kembali ke Lembar setelah beberapa jam berlayar karena penumpangnya ketakutan. ”Cuacanya sangat mengkawatirkan,” katanya.
Suasana haru meliputi penumpang KMP Marina Primera yang berangkat pagi dari Padangbai merapat di Lembar pukul 13.00 Wita. Seorang penumpangnya Mahir disambut isak tangis istrinya Nurhayati. ”Ketika di kapal, suami saya nelpon minta dicarikan Haji Kasim minta didoakan di masjid. Kapalnya sudah miring,” ucap Nurhayati. Lainnya, ada sebuah truck barang yang mengalami yang patah as karena goncangan dan satu truck lainnya juga pecah kacanya.
Kepala Seksi Obesrvasi dan Informasi Stasiun Meteorologi Mataram Wakodim, nelayan juga telah diminta untuk tidak melaut hingga empat hari mendatang. Sebab dampak badai tropis George yang berada di Australia tersebut menyebabkan terjadinya peningkatan intensitas dari semula dua hari dalam seminggu hujan menjadi setiap hari. Tingginya curah hujan juga meningkat semula tujuhmilimeter menjadi 52,6 milimeter. ”Karena itu, pelabuhan diminta konfirmasi cuaca setiap tiga jam dan bandara setap 30 menit,” ujarnya.
Di kota Mataram, sejak Selasa (6/3) malam, warga nelayan penduduk di sepanjang pantai Ampenan juga diungsikan pada malam hari menghindari datangnya badai dadakan. Pada Rabu pagi, gelombang dan angin cukup besar menerpa bibir pantai. Dinas PU Kota Mataram memasang 500 karung berisi pasir sebagai penahan gelombang agar rumah penduduk di Lingkungan Gatep tidak tergerus air laut. Diantaranya rumah janda beranak empat, Sahnim, 40 tahun, yang berada hanya sekitar 10 meter dari bibir pantai di pagi hari. Katanya, akibat gerusan air laut selama beberapa tahun terakhir ini, semula rumahnya berjarak cukup jauh dari air laut. Sebab, sebelumnya ada kandang sapi dan lapangan untuk bermain bola yang kini sudah tidak ada lagi karena sudah menjadi bagian dari laut.
Sudah sepekan terakhir ini para nelayan di sepanjang pantai Ampenan tidak berani melaut. Untuk mengganti sumber nafkahnya, mereka ada yang menjadi buruh tani, ikut panenan padi di desa sekitarnya. ”Dari pada tidak ada untuk makan,” kata Anwar - salah seorang warga menjelaskan pekerjaan sementara kerabatnya. Padahal, memburuh tani tersebut hanya mendapatkan 5-7 kilo gabah bukan beras.
Akibat cuaca buruk tersebut juga menyebabkan aliran listrik mengalami pemadaman berulang kali sepanjang hari. Antara lain disebabkan adanya pohon yang bertumbangan di sekitar kota Mataram yang mengganggu kawat listrik dan juga mesin pembangkitnya PLN.(supriyantho khafid)


