MATARAM - Selama dua tahun terakhir, 2005-2006, tingkat pertumbuhan PDRB (product domestic regional brutto) Nusa Tenggara Barat (NTB) rendah. Sebabnya, sektor pertambangan dan penggalian yang mempunyai andil cukup besar, 35,12 persen terhadap PDRB mengalami pertumbuhan negatif (kontraksi) sebesar minus 3,81 persen dan minus 5,84 persen.
Rendahnya tingkat pertumbuhan PDRB NTB tersebut disampaikan Kepala Badan Pusat Statistik NTB Martanius Moechtar, Kamis (1/3) sore. ”Kecil sekali pertumbuhannya,” kata Marthanius kepada wartawan, sewaktu menyelenggarakan jumpa pers di kantornya. Menurutnya, produksi tambang di NTB sangat dominan.
Sebenarnya, PRDB NTB termasuk sub sektor pertambangan non migas tahun 2006 mengalami peningkatan menjadi Rp27,67 triliun dari tahun sebelumnya 2005 sebesar Rp25,74 triliun dihitung atas dasar harga berlaku Sedangkan atas dasar harga konstan tahun 2000, PDRB NTB tahun 2005 sebesar Rp15,22 triliun meningkat menjadi Rp15,49 triliun pada tahun 2006 atau mengalami pertumbuhan sebesar 1,77 persen. Tingkat pertumbuhan tersebut sedikit lebih rendah jika dibandingkan dengan pertumbuhan 2005 sebesar 1,82 persen.
Sedangkan PDRB NTB tidak termasuk sub sektor pertambangan non migas pada tahun 2006, mencapai pertumbuhan 4,49 persen masih lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada tahun 2005 sebesar 4,19 persen. Sektor yang berperan dalam mendorong pertumbuhan PDRB tanpa sub sektor pertambangan non migas pada tahun 2006 adalah sektor pertanian. Yang mempunyai peranan terbesar sektor pertanian yaitu 36,76 persen terhadap PDRB tahun 2006.
Sektor-sektor lapangan usaha lain selain sektor pertanian yang mempunyai peranan cukup besar terhadap perekonomian NTB tahun 2006 adalah sektor perdagangan, hotel dan restoran sebesar 17,43 persen dan sektor jasa-jasa sebesar 13,74 persen yang masing-masing pertumbuhannya mencapai 7,37 persen dan 2,08 persen.
BPS yang memiliki kerja sama di bidang kepariwisataan, mendapati angka kunjungan wisatawan baik dari dalam negeri maupun luar negeri bertambah meskipun angkanya masih belum banyak dibanding Bali. Dari hasil pengumpulan data dari hotel berbintang, hunian kamar cenderung meningkat walaupun angkanya lebih rendah dibanding sebelum peristiwa peledakan bom di Bali.
Kalau tahun 2005 jumlah yang menginap di hotel berbintang 139.828 orang maka pada setahun terakhir, 2006 telah menjadi 150.761 orang. Namun wisatawan mancanegaranya menurun dari tahun 2005 sebanyak 45.281 orang menjadi 41.420 orang pada tahun 2006. Sebaliknya wisatawan nusantara meningkat 15, 65 persen dari sebelumnya 2005 sebesar 94.547 orang menjadi 109.341 orang. ”Dari kalangan pariwisata harus ada kiat meningkatkan angka kunjungannya,” ucap Martanius.(supriyantho khafid)

