MATARAM – 1 Maret 2007
Rendah keikut sertaan keluarga berencana (KB) di Nusa Tenggara Barat (NTB). Dari 725.000 pasangan usia subur (PUS), hanya 53,55 persen atau 350.000 yang ber-KB. Lebih rendah dari rata-rata peserta KB nasional sebesar 60 persen. Peserta KB di NTB menurun, Unmetneed (non aktif-melepas alat kontrasepsinya) hingga 21 persen, karena ingin memiliki anak lagi. Akibatnya, angka kelahiran bayi mencapai 2,6 persen.
Kondisi perKBan di NTB tersebut dikemukakan Kepala Kantor Wilayah Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) NTB Lalu Burhan seusai pembukaan rapat kerja daerah di Mataram, Kamis (1/3). Mereka yang berhenti KB karena ingin punya anak lagi. ”Tidak bisa membedakan punya anak laki dan perempuan,” ujar Lalu Burhan.
Ia mengemukakan bahwa berkurangnya peserta KB ini disebabkan keinginan untuk memiliki anak sebagai pengganti anaknya yang meninggal atau karena keluarga yang ingin memiliki anak setelah hanya melahirkan laki-laki atau perempuan. Selain itu, juga disebabkan belum dipahami pentingnya KB.
Sebelumnya, rendahnya angka peserta KB di NTB ini dikemukakan oleh Deputi BKKBN bidang Informasi Kependudukan dan Pemenuhan Kebijakan Yurni Satria. Ia meminta keterlibatan perguruan tinggi dan pemerhati program KB untuk mencari jalan keluar yang bias dikerjakan. ”Rendahnya peserta KB di NTB ini perlu dicermati dan diteliti,” katanya.
Gubernur NTB Lalu Serinata mengemukakan bahwa laju pertumbuhan penduduk mencapai 1,82 persen per tahun. Jika saat ini penduduknya tercatat 4.140.957 jiwa berarti pertambahan penduduknya 75.365 per tahun atau setara dengan penduduk kecamatan. Sedangkan angka kemiskinannya masih cukup tinggi. Diperkirakan masih mencapai 327.567 kepala keluarga atau 32,15 persen.(supriyantho khafid)


