Lombok Sumbawa Online
Google
 
Tuesday, 27 February 2007 • EKONOMI

MATARAM - Persediaan  beras di gudang Perum Bulog Divisi Regional Nusa Tenggara Barat (Divre NTB) dalam keadaan kritis. Saat ini persediaannya tersisa 6.000 ton setelah dikurangi jatah beras untuk rakyat miskin (raskin). Padahal seharusnya tersedia minimal 50.000 ton untuk persedian selama tiga bulan atau 75.000 ton setahun agar memenuhi kecukupan kebutuhan darurat di NTB.

Kepala Divre Perum Bulog NTB Hari Syahdan menegaskan kritisnya persedian beras di gudang, sewaktu memberikan keterangan pers dadakan kepada wartawan di ruang Humas Pemerintah Propinsi NTB, Selasa (27/2) sore. ”Kondisinya emergency situation,” ujar Hari Syahdan. Karena itu, ia mengatakan rencana kedatangan beras impor sebanyak 12.000 ton yang dialokasikan ke NTB dinilai sangat membantu walaupun NTB adalah termasuk daerah penyangga pangan nasional.

Padahal, sebelumnya, pekan lalu, Divre Bulog NTB sudah dikirimi beras asal Palopo Sulawesi Selatan sebanyak 6.000 ton beras. Gubernur NTB Lalu Serinata sejak 20 Pebruari 2007 melalui surat Nomor : 510/80/Ekon tentang penundaan pengeluaran gabah/beras lalu sudah meminta dihentikannya pengeluaran beras ke luar daerah.

Perum Bulog Divre NTB untuk mengatasi melambungnya harga beras di pasaran sejak 19 Pebruari lalu hingga 1 Maret mendatang melakukan operasi pasar. Sebanyak 3.500 ton dialokasikan. Sampai dengan hari Selasa (27/2), sudah disalurkan 3.200 ton. Hari Syahdan mengemukakan akan terus menyalurkan beras operasi pasar sampai harga beras di pasaran menurun hingga Rp4.000 per kilo. Walaupun para pedagang beras di pasar, disebutnya saat ini sudah kewalahan tidak dapat menjual beras yang disimpannya.

Kepala Perwakilan Badan Pusat Statistik NTB Martanius Muhtar mengatakan hasil pantauannya di empat pasar di kota Mataram yaitu Mandalika, Cakranegara, Pagesangan dan Ampenan, bahwa sebelumnya dilakukan operasi pasar harga beras per tanggal 12 Pebruari 2007 harga beras IR 1 yang dipantau mencapai Rp4.750. Sepekan kemudian (19/2) menjadi Rp4.783, selanjutnya 26 Pebruari harganya turun menjadi Rp4.601 dan terakhir, Selasa (27/2) menurun lagi menjadi Rp4.556. ”Sekarang, untuk laporan ke wakil presiden, pemantauan harga dilakukan setiap hari,” kata Martanius.

Ia pun mengemukakan bahwa selama Januari 2007, inflasi di Mataram sebagai ibukota NTB cukup tinggi, mencapai 4,17 persen. Padahal nasional hanya 6,6 persen setahun sebelumnya 2006, dan di Mataram sendiri waktu itu cuku rendah yaitu 2,38 persen. ”Yang paling dominan penyebab inflasi adalah kenaikan harga beras di urutan pertama,” ucapnya. Ada 113 komoditi pengaruhi inflasi. Di urutan kedua adalah harga cabe dan kemudian harga tomat sayur.(supriyantho khafid)

No Comments »

No comments yet.

Leave a comment








Recent Comments
» PELANTIKAN GUBERNUR NTB DITUNDA
08/28/2008 06:16 pm | 2 Comments
» MENDAKI RINJANI YANG CANTIK
08/28/2008 10:45 am | 1 Comment
» INDUSTRI AGRO DI PULAU SUMBAWA
08/28/2008 10:42 am | 3 Comments
» ABDUL MALIK JADI SEKDA NTB
08/27/2008 10:32 am | 4 Comments
» KPUD NTB KAWATIR JADWAL PELANTIKAN GUBERNUR NTB TERPILIH TERGANGGU
08/27/2008 04:29 am | 3 Comments
Lomboknews.com - 2007 - Media Lombok - Developed by andiraweb.com | busby seo challenge