MATARAM - Pemerintah Propinsi Nusa Tenggara Barat ( Pemprop NTB) menawarkan investasi tambang di pulau Sumbawa. Potensinya mengadung tembaga, lokasinya ada dua blok di Kabupaten Sumbawa. Yaitu Blok I Ledang dan Blok II Lantung Aikmual. Selama ini perizinan diberikan kepada PT Mitra Sumbawa Mineral namun tidak ada kegiatan eksplorasinya.
Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Nusa Tenggara Barat Jalal dan Kepala Sub Dinas Pertambangan Umum M Husni sewaktu melakukan pemaparan potensi daerah di depan pengusaha asal Malaysia Stephen Subramaniam dari PT Cahaya Surya Indonesia, Selasa (20/2). ”Yang memungkinkan investasi tambang di pulau Sumbawa,” ujar Jalal. Pemaparan potensi investasi di NTB tersebut dipimpin Asisten II bidang Ekonomi Sekretaris Daerah NTB Abdul Malik dan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah NTB Lalu Fathurahman.
Namun dikemukakan bahwa tidak semua potensi tambang bisa digarap melalui perizinan baru karena alasan tata ruang. Saat ini di NTB sudah ada 16 izin tambang yang dikeluarkan pemerintah, diantaranya kontrak karya yang ditangani PT Newmont Nusa Tenggara yang mendapatkan izin lima blok tambang. Satu lokasi, Batu Hijau di Kecamatan Jerweh Kabupaten Sumbawa Barat sudah beroperasi sejak tahun 2000. Lainnya ditangan PT Indotan Corporation di Sumbawa dan Lombok.
Stephen Subramaniam menyatakan minatnya untuk menggarap tambang tersebut. Ia mengatakan bahwa Datuk S.S.Subramaniam - orang tuanya - sudah berpengalaman di bidang tambang dan memiliki mitra tambang Mutiny Gold LTD dari Australia. Mereka memiliki kemampuan pendanaan miminal US $ 1 miliar. ”Belum bisa dibeberkan. Tapi kami siap,” ujarnya, yang berada di kantor Gubernur NTB bersama istrinya, Maritsia Ratnaningsih. Contoh kemampuan pendanaannya, disebutkan bahwa di Bojonegoro Jawa Timur ia telah melakukan investasi infrastruktur jalan sepanjang 106 kilometer yang pembiayaannya mencapai Rp1 triliun dan mendanai pengadaan air bersih sebesar Rp500 miliar.
Pemprop NTB juga menawarkan pembangunan jalan tol sebagai alternatif jalan negara Mataram - Labuan Kayangan yang sudah terasa sempit sepanjang lebih 70 kilometer. Jalal yang juga bekas Kepala Dinas Pemukiman dan Prasarana Wilayah (Kimpraswil) NTB mengatakan pembiayaan untuk pelebaran jalan tersebut tidak tersedia. ”Kalau ada jalan baru, maka terjadi pengembangan kawasan baru,” katanya.
Menurut Kepala Sub Dinas Bina Marga Dinas Kimpraswil NTB Sofyan Djayadi, lalu lintas harian di jalur Mataram – Kayangan tersebut memang semakin meningkat. ”Di sini memang padat sekali lalu lintasnya. Bus malam dan angkutan truck bisa dialihkan ke jalur ini,” ucapnya.(supriyantho khafid)


