MATARAM - Ternyata pertikaian warga antar desa Ketare dan Sengkol di Kecamatan Pujut Kabupaten Lombok Tengah (Loteng) memakan korban tiga jiwa. Setelah menjalani visum di RSU Praya, Kamis (15/2) dini hari, siangnya jenazah mereka dikuburkan di Sengkol. Sedangkan lima orang diantara warga Ketare penyebab pertikain tersebut ditangkap polisi sebagai tersangka.
Para korban meninggal adalah siswa SMA Negeri 1 Pujut Muhali, 17 tahun, asal Sengkol, Agus Tikayatman, 21 tahun (Sengkol) dan Amaq Rohan, 55 tahun (Truwai). Adapun warga Ketare yang ditangkap sebagai pelaku penyebab tewasnya korban diantaranya siswa SMA Negeri 1 Pujut asal Ketara Lalu Sukarda selaku pemicu terjadinya pertikaian antar siswa di sekolahnya.
Sewaktu dihubungi, Kepala Kepolisian Resort (Polres) Loteng Ajun Komisaris Besar Ruslan belum dapat memberikan penjelasan. ”Maaf, saya sedang melakukan kordinasi,” ujarnya di kantornya. Di markas Polres Loteng di kota Praya, hadir Direktur Reserse Kriminal Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Barat (Polda NTB) Komisaris Besar I Gusti Ngurah Putra. Kronologis kejadiannya menjadi bahan pembicaraannya. Sebelumnya, polisi sudah melakukan sweeping menyita puluhan senjata tajam di Desa Ketare.
Setelah selesai rapat kordinasi, Kepala Biro Operasional Polda NTB Komisaris Besar Yudho Juwono kemudian memberikan penjelasan bahwa polisi akan melakukan penegakan hukum. ”Perkara ini akan dikembangkan,” ujarnya kepada wartawan. Namun ia menyangkal situasinya dinyatakan siaga satu walaupun menempatkan banyak satuan polisi di sana.
Pertikaian antar desa tersebut berawal dari penyerangan 13 orang siswa SMA Negeri 1 Pujut asal Ketare kepada delapan orang siswa asal Sengkol di dekat kantin sekolah, Rabu (14/2) siang sewaktu istirahat pertama. Menurut salah seorang siswa kelas 2 IPS Selamet Aryadi, bersama Muh.Ramli yang mengalami luka tergores kepalanya dan pundak bagian belakang, mereka menyerang gara-gara tawuran antar desa sebelumnya, Senin (12/2). Waktu itu, pemicunya adalah anak-anak muda dari Desa Ketara yang melakukan kebut-kebutan mengendarai motor.
Untuk menghindari keributan yang lebih besar lagi, Kepala sekolahnya, Junaidi Sorenggane memulangkan para siswanya. Ternyata, setelah sore, warga Ketare beramai-ramai mendatangi Desa Sengkol. Sampai petang, situasi masih bisa diatasi oleh polisi yang menempatkan tiga satuan setingkat kompi pasukan pengendali massa (Dalmas) Polres Loteng ditambah satuan Brimob Polda NTB dan pasukan huru hara dilengkapi dua unit kendaraan taktis polisi dan satu unit panser. Ternyata menjelang tengah malam, dalam kegelapan, saling serang menggunakan senjata tajam dan lempara batu memuncak sehingga jatuhnya korban tewas tersebut.(supriyantho khafid)


