MATARAM - Enam orang anggota polisi di Nusa Tenggara Barat (NTB) dipecat karena tidak disiplin, kawin lagi tanpa izin atasan dan disersi lebih 30 hari secara terus menerus. Mereka tersebar di satuan kerja (satker) Kepolisian Resort (polres) dan Brimob Daerah NTB. Pelucutan tanda anggotanya dilakukan di depan peserta upacara pemberhentian tidak dengan hormat, oleh Kepala Kepolisian Daerah (Polda) NTB Brigjen Pol Wawan Hendrawan, Rabu (14/2) pagi.
Berlangsung di lapangan apel Markas Polda NTB, dilakukan secara langsung oleh Kapolda NTB Brigjen Pol Wawan Hendrawan terhadap anggota Polres Sumbawa Brigadir Satu I Wayan Mukuyasa karena disersi. ”Pemecatan ini harus saya lakukan agar tidak ditiru yang lain,” ujarnya.
Lainnya, yang dilakukan melalui satker adalah Brigadir Poniadi (Birmobda) yang menelantarkan keluarganya melakukan perkawinan lebih dari satu. Brigadir Dua Lahmudin (Polres Sumbawa) dua kali melakukan pernikahan tanpa izin pimpinan dan istri keduanya Suasana dalam keadaan melahirkan. Brigadir Dua Irwansyah juga diberhentikan tidak dengan hormat karena melakukan penganiayaan terhadap pacarnya. Sedangkan perkara pidananya masih proses kasasi di Mahkamah Agung.
Seterusnya, adalah Brigadir Dua Budi Darmawan dari Brimobda yang tidak masuk dinas lebih 30 hari, Brigadir Satu I Wayan Suwina dari Polres Bima juga tiga kali melakukan pelanggaran disiplin.
Selama setahun kepemimpinannya, Kapolda NTB Brigjen Pol Wawan Hendrawan telah melakukan empat kali pemecatan yang jumlahnya belasan anggota. Pemecatan anggota polisi ini, tidak akan mengurangi jumlah personil Polda NTB. Karena masih ada ribuan orang lagi yang berminat.
Pada apel yang sama, juga dilakukan pemberian piagam penghargaan terhadap prestasi dan dedikasi lima orang anggota buru sergap Curanmor Polda NTB yang sewaktu menjalankan tugasnya diserang warga Bila Landong Praya Timur Kabupaten Lombok Tengah sehingga berakibat cedera berat. Inspektur Satu Ida Bagus Putu Buwana.mengalami empat jari kanannya, Brigadir Dua Gurun Wahyu Waseso, Brigadir Kadek Metri, Brigadir Satu Mohammad Khojin yang masih menggendong tangan kirinya karena patah, dan Brigadir Satu Ghufron Subeki.(supriyantho khafid)


