MATARAM - 100an orang penonton duduk dialas kertas koran. Lokasi di selasar depan ruang pentas teater Taman Budaya di Nusa Tenggara Barat, Jum’at (9/2) malam. Sebuah panggung ditempatkan persis di depan pintu masuk yang ditutup. Di sana, malam itu Ary Juliant - penyanyi folk asal Bandung melakukan konser gerilya - main gratis di mana-mana - di depan pegiat dan peminat seni se Mataram. Judul pentasnya, Di Utara Ada Natuna.
Ya, pentas Ary Juliant dilakukan sebagai oleh-olehnya setelah sebulan sebelumnya, selama 10 hari sejak 9 Januari, mengunjungi Bungaran di Natuna. Ada 10 lagu yang disajikan - diantaranya tujuh lagu hasil eksplorasinya selama di Natuna. ”Natuna itu daerah terpencil yang justru menarik. Jauh dari keramaian. Sayang kalau tidak diperhatikan,” ucapnya sebelum manggung.
Karena itu, ia menghasilkan lagu-lagu balada yang menceritakan alam di pulau paling utara berdekatan dengan Johor, Vietnam dan Serawak. Ketika penonton berdatangan, pukul 20.30 Waktu Indonesia Tengah, ia membuka pertunjukannya dengan gitar akustik di tangan, tamborin di kaki kanan dan dua kotak putih di depan dan samping kanannya sebagai pelengkap bunyian, menyuarakan lagu Menuju Pulau Utara dari yang diperolehnya sewaktu dalam pesawat dari Hang Nadim Batam menuju Natuna. Isinya betapa sulitnya transportasi ke Natuna yang tidak ada penerbangan setiap hari.
Merupakan karya yang direncanakan judul albumnya Hutan Mimpi, lainnya adalah Di Ujung Dermaga Lampa, yang juga mengungkap sulitnya transportasi laut karena hanya dua bulan sekali ada kapal yang datang. Ia menginginkan sebagai negara kepulauan jaringan lautnya diperbaiki. Karena sayang kalau tergantung negara tetangga yang lokasinya terdekat.
Judul lagu lainnya adalah Sketsa Natuna, Andai Gunung Ranai, Di Ujung Dermaga Lampa, Semangat Bola Kaki Natuna, Makam Hutan Sumatera dan Bukit Waktu yang merupakan musikalisasi pusisi pegiat seni di Mataram Riyanto Rabah. Juga Cintamu Cintaku dan lagu empat bahasa daerah Sasak, Sunda, Jawa dan berjudul Solidari. Penutupnya lagu Di utara Ada Natuna
Ary Juliant yang malam itu tampil dibantu Ary Bedjo yang memainkan gitar elektris dan Nanang Jembe dibelakang drum dan perkusi, selama 75 menit, menyenandungkan secara melankolis Andai Gunung Ranai, bisa disebut sebagai terpilih dari sejumlah lagu dari Natuna. Syairnya seperti berikut :
Sejenak kupandangi kabut yang selimuti gunung Ranai kita
Seperti mengabarkan kegundahannya tentang alam yang kian tak nyaman
Hutan gunung bukan hanya terdiri dari pepohonan dan bukit saja
Tapi ada juga rasa cinta bagi semua mahluk di sekitarnya
Mampukah kita memahami kabuat kegundahan alam di gunung Ranai
Dan masih adakah rasa cinta kita bagi kelestarian alam yang damai
Semoga hutan gundul taik terjadi di Natuna
Seperti gundulnya nurani orang-orang serakah dari negeri antah berantah
Karena kehadirannya di sana , mengikuti kunjungan persahabatan Persib Bandung, maka ada lagu Semangat Bola Kaki Natuna untuk penyemangat bermain sepak bola orang-orang Natuna sewaktu menghadapi Persib Bandung yang mengalahkannya hingga sembilan gol tanpa balas. Walaupun Bupati Natuna sempat menjanjikan hadiah Rp25 juta kalau mempertahankan kebobolan hanya lima gol saja. Lagu lain berjudul Sepak Bola juga dimainkan dalam bahasa Sunda untuk sindiran terhadap adanya permainan kasar.
Adapun musikalisasi karya puisi pegiat seni Mataram Riyanto Rabah setelah melintas Sumatera diberjudul Jam Gadang yang mengandung penyesalan rusaknya lingkungan hutan di sana. Ini dilantunkannya agar kerusakan lingkungan tidak terjadi di kawasan timur Indonesia.
Kunjungannya ke pulau Natuna, sebenarnya bersama teman-temannya sesama pencinta alam mengikuti tim kesebelasan Persib Bandung yang bermain bola persahabatan di sana. Ary Juliant sendiri sejak beberapa tahun terakhir ini, hidup dan berkesenian di kawasan wisata Senggigi Lombok.Sebelumnya, ia menggarap album independen label di Bandung sejak 1998 dan konser sendiri.
Sehari-hari Ary Juliant yang dilahirkan di kota kembang Bandung, 31 Juli 1964, yang melakukan hijrah ke Lombok sejak 1995, adalah musisi entertainment di cafe-cafe di sekitar kawasan wisata Senggigi Lombok sejak 1997. Ia membawakan musik folk, country, balada, jazz blues.(supriyantho khafid)


