MATARAM - 34.000 hektar lahan tadah hujan terancam mengalami kekeringan. Waktu terjadinya apabila dalam seminggu ini tidak turun hujan. Lebih 200an pejabat dan karyawan Dinas Pertanian Nusa Tenggara Barat (Distan NTB) bersama Jamaah Tabligh Masjid Raya Attaqwa Mataram melakukan salat Istiqo guna minta turun hujan di lapangan tenis di belakang kantor, Jum’at (2/2) pagi.
Salat dua rakaat dan dilengkapi khotbah dilakukan agar kembali dalam tuntunan agama karena banyaknya musibah - termasuk kekeringan - dan umat yang tidak peduli. ”Selain usaha fisik, kami berupaya kembali kepada Allah,” ujar Kepala Distan NTB Mashur, seusai salat.
Klasifikasi 34.000 hektar lahan sawah merata di sembilan kota dan kabupaten se NTB yang terancam kekeringan adalah meliputi kering ringan, sedang dan berat hingga akhirnya mengalami puso. Terancam kekeringan itu yang akan memasuki ambang kekeringan. ”Utamanya di daerah tadah hujan di selatan,” kata Mashur. Ada dua wilayah yang terancam kekeringan adalah di daerah lahan kering tadah hujan yang bergantung turunnya air hujan dan di daerah irigasi bagian hilir yang tidak cukup debitnya dialirkan ke hilir.
Ancaman kekeringan tersebut kemungkinan menyebabkan tidak tercapainya target peningkatan produksi beras NTB yang ditetapkan oleh pemerintah sebagai penyangga beras nasional. Kalau tahun 2006 lalu produksi 1.545.254 ton gabah kering giling (gkg) maka tahun 2007 diminta menambah produksi 70.000 ton beras sehingga sasaran produksi NTB 1,6 juta ton gkg. Secara nasional pemerintah menetapkan 2 juta ton tambahan produksi beras.
Di NTB terdapat lahan sawah seluas 281.000 hektar. Adapun lahan sawah irigasi seluas 150.000 hektar yang bisa ditanami dua kali. Lahan gogoh rancah (Gora) tadah hujan seluas 40.000 hektar belum termasuk lahan kering lainnya. Namun yang dikawatirkan adalah terjadinya pergeseran penanaman padi di lahan gora melalui penyemaian. ”Mereka ini yang terancam kekeringan karena baru menyemai, menanam tetapi belum kuat, kehilangan hujan,” ucapnya.
Menurut ramalan Badan Meteorologi Geofisika, musim kemarau mengalami percepatan dari waktu semestinya. Curah hujan juga berkurang. Biasanya musim hujan yang biasanya Oktober - Maret luas areal sawah yang ditanami mencapai 281.000 hektar. Sebanyak 52 persen yang sudah menanam. Karena itu selebihnya petani yang belum lebih separo lahan sawahnya dianjurkan menanami palawija. ”Karena itu tidak direkomendasikan menanam padi tetapi jagung dan kedele,” katanya.(supriyantho khafid)


