MATARAM - Harga gas Elpiji pertabung mencapai Rp66 ribu di Mataram. Padahal harga yang ditetapkan pemerintah hanya Rp51 ribu. Tingginya harga eceran tersebut disebabkan konsumen harus menanggung ongkos angkut khusus laut kebutuhan gas tersebut. Selama ini Pertamina belum menyediakan depo sendiri di Ampenan karena jumlah kebutuhan Gas Elpiji di Nusa Tenggara Barat masih kecil. Sehingga pengisiannya diserahkan kepada agen pengisian gas Elpiji.
Manajer Wilayah V Gas Domestic Pertamina Rosyidi Hasyim, seusai menemui Gubernur Nusa Tenggara Barat Lalu Serinata, Kamis (25/1). Ia mengakui bahwa sebelumnya disurati Gubernur Nusa Tenggara Barat Lalu Serinata yang mempertanyakan mahalnya harga gas Elpiji di Nusa Tenggara Barat. ”Mahalnya gas di sini disebabkan ongkos angkutan laut mencapai 25 persen dari harga semestinya Rp51.000 pertabung,” ucapnya.
Selain itu, Rosyidi Hasyim juga mengakui bahwa Nusa Tenggara Barat belum kebagian jatah pergantian pemakaian minyak tanah beralih menggunakan gas elpiji. Tahap pertama, Pertamina baru melakukannya di Jawa dan Bali. Di Jawa Timur pun direncanakan tiga kota, Surabaya, Gresik dan Sidoarjo. ”Belum tahu kapan dilakukan di sini,” katanya. Hanya disebutkan bahwa target peralihan penggunaan Elpiji ditetapkan 2007-2012.
Ia mengemukakan bahwa rencana penggunaan gas Elpiji mengganti minyak tanah tanah, sangat berarti untuk mengurangi besarnya subsidi pemerintah. Apalagi mengingat kebutuhan minyak tanah untuk keperluan rumah tangga setiap harinya di Nusa Tenggara Barat cukup tinggi, mencapai 400 kilo liter. Demikian pula keperluan omprongan pengeringan daun tembakau memerlukan jumlah yang sama banyaknya.
Peralihan penggunaan minyak tanah menjadi gas Elpiji karena lebih hemat subsidinya. Satu liter minyak tanah kalorinya bila dibanding Elpiji sama dengan 0,57. Apabila subsidinya secara nasional selama ini Rp40 triliun maka bila menggunakan Elpiji hampir separonya bisa dikurangi.(supriyantho khafid)

