MATARAM - Lumpur Lapindo ternyata banyak mengandung unsur logam. Dalam bentuk padatan Aluminium (Al), Silikat (Si), Magnesium (Mg), dan dalam bentuk cair Sulfur (S) dan unsur Alkali II Tanah. Jika lumpur Lapindo tersebut dikelola, bisa menghasilkan nilai ekonomi untuk masyarakat. Dari timbunan lumpur seluas 400 hektar yang tingginya 8,5 meter tersebut atau 34 juta meter kubik diperhitungkan nilai jualnya Rp400 triliun.
Hamzah dan Lalu Zulkarnain - peneliti dari Santiri Foundation mengemukakannya sewaktu ditemui, Selasa (9/1) pagi. ”Lumpur ini akan bisa membuat sejahtera masyarakat yang sebelumnya telah disengsarakan,” ujarnya.
Karena itu, meskipun nantinya masyarakat sudah memperoleh pembayaran ganti rugi tanah miliknya, harus dilibatkan kepemilikan sahamnya pada timbunan lumpur yang telah menggenangi halaman rumah dan persawahan.
Alkali II Tanah - ini masih hypothesa yang didalamnya mengandung unsur Kalsium (Ca), Stronsium (Sr), Berilium (Be), Barium (Ba) dan Radium (Ra). Sedangkan selebihnya yang berupa gas cair adalah Nitrogen, Hidrogen, Metana (CH4), Carbon Monoxida (CO), Carbon Dioxida (CO2). Semua kandungan logam tersebut dalam waktu lama bisa menjadi basic pembentukan minyak bumi dengan suhu yang sangat tinggi.
Kedua peneliti lumpur Lapindo tersebut, sebelumnya telah menemukan model Sistem Pengendapan Lumpur Lapindo Brantas. ”Selama ini banyak pakar tapi tidak ada satupun dari pakar itu yang sasarannya menutup semua,” katanya. Mereka hanya menghitung waktu dan cara pembuangannya ke laut. Padahal untuk membuang ke laut perlu waktu lama karena menggunakan mesin dan juga mengganggu lingkungan. Volume lumpur pun lebih kecil jumlahnya dibanding semburan yang dikeluarkan perdetik mencapai 1,72 meter kubik atau per jam sekitar 5.000 meter kubik.
Menurut Hamzah, apabila tim nasional Penanggulangan Lumpur Lapindo Brantas kawatir model yang ditemukan itu diterapkan di sumur yang besar, maka bisa diujicobakan di sumur yang paling kecil. ”Supaya semburan lumpur ini tidak meresahkan masyarakat,” ucapnya.(supriyantho khafid)


