MATARAM - Penyebab kerusakan lingkungan di Indonesia adalah masyarakat pengusaha. Karena ulah mereka, masyarakat pun menjadi perusak lingkungan sehingga kondisinya sangat parah. Mereka kurang fokus terhadap kepentingan pemeliharaan lingkungan hidup. Mereka - para pengusaha pemegang hak pengusahaan hutan, seenaknya memotong pohon dari pada menanam dan memeliharanya.
”Pengusaha memicu masyarakat merusak lingkungan,” ujar Menteri Negara Lingkungan Hidup Rachmad Witoelar mengemukakannya setelah penyampaian dana anggaran 2007 sebesar Rp6,4 triliun di Mataram, Selasa (2/1). Menurutnya, masyarakat melakukan perusakan lingkungan secara langsung untuk memenuhi permintaan para pengusaha.
Dikatakannya bahwa para pengusahaa sangat serakah melakukan pemotongan pohon-pohon di hutan untuk kepentingan sesaat yang menguntungkan usahanya. Padahal semestinya memikirkan kelanjutan usahanya dan kehidupan masyarakat.
Dana perbaikan lingkungan secara keseluruhan yang tersebar di berbagai sektor mencapai Rp7 triliun. Jumlah tersebut belum seberapa, karena cukup besar kebutuhan penanganan lingkungan. Sedangkan biaya yang dikelola langsung oleh Kementerian Negara Lingkungan Hidup tanpa disebut angka pastinya, Rahmad Witoelar hanya mengatakan beberapa ratus miliar saja.
Menurutnya, kalau diperhitungkan dengan berbagai program pengembangan masyarakat (community development) dan tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility) jumlahnya yang tidak ternilai mencapai lebih ratusan triliun rupiah.
Mengenai penyerahan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran Tahun 2007 yang besarannya Rp6,4 triliun untuk keperluan pembiayaan di daerah Nusa Tenggara Barat, untuk 34 departemen, lembaga dan dana alokasi umum (DAU)-dana perimbangan atau dana alokasi khusus (DAK), terbesar adalah DAU sebanyak Rp3,478 triliun. Disusul dana pendidikan nasional sebesar Rp548,5 miliar, pekerjaan umum Rp463,8 miliar dan DAK sebesar Rp406,1 miliar. Kemudian kepolisian negara Rp297,6 miliar.(supriyantho khafid)


