MATARAM - Dua orang peneliti Santiri Foundation Mataram, Hamzah, 46 tahun sarjana teknologi pertanian dan Lalu Zulkarnain, 30 tahun, sarjana teknik kimia menemukan metodologi dan formulasi yang bisa menghentikan semburan lumpur Lapindo di Porong Sidoarjo.
Biaya pembuatan biokatalis dan klorofil serta serat tembaga dan asam garam sebagai bahan penutup rongga lubang di bawah tanahnya hanya memerlukan sekitar Rp46 juta untuk 23 kali aplikasi (perlakuan) belum termasuk biaya pendukung pelaksanaannya di lapangan. Ini berarti menghemat pembiayaan yang selama ini telah dikeluarkan lebih dari Rp3,5 miliar.
Hasil penelitian yang dilakukan selama 40 hari yang menghabiskan biaya Rp2 juta dilakukan langsung terhadap lumpur Lapindo yang dibawa ke Mataram sebanyak satu jerican ukuran 30 liter. ”Kami menelitinya meliputi kimia, fisika dan biologi secara terpadu. Selama ini penelitian biologinya diabaikan,” ujar Hamzah, yang sehari-hari bekerja sebagai PNS golongan III/C di kantor Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Nusa Tenggara Barat.
Sabtu (30/12) pagi, Santiri Foundation menjelaskan temuannya tersebut pada acara konferensi pers dipimpin ketuanya Tjatur Kukuh Suryanto. Dalam naskah yang dibuat berjudul Sistem Pengendapan Lumpur Lapindo Brantas Dengan Menggunakan Bio Katalis dan Klorofil Sebagai Demulsifier Koagulan Dalam Mengatasi Masalah Nasional, mereka akan menutup 400 hektar persegi rongga di bawah tanah kedalaman empat meter yang telah terjadi selama tiga bulan terakhir.
Untuk menghentikan semburan lumpur tersebut, setiap kali aplikasi dari rencana 23 kali akan digunakan materi sebanyak 306 kilogram terdiri biokatalis cair, klorofil berbentuk bubuk, dan tembaga berbentuk serat untuk mengikat bersama pemberat asam garam sehingga keseluruhannya mencapai tiga ton 60 kilogram.
Biokatalis cair yang merupakan cairan bersifat asam sebagai pemisah antara fase padat dan cair dengan mengikat ion H+ yang berada pada medium lumpur dan teremulasi dalam sistem koloid membentuk fase cair. Biokatalis dicangkok (dikultur). Sedangkan klorofil dari hijau daun memiliki kemampuan mengikat O2 dan bereaksi terhadap fase padat dengan pembentukan gumpalan sehingga partikel akan turun secara vertikal berdasar berat molekul membentuk endapan.
Untuk menempatkannya melalui lubang semburan tersebut menggunakan helikopter yang melepasnya dari atas. Waktu yang diperlukan setiap kali melepas selama 96 jam atau empat hari. ”Ini dilakukan sebanyak 23 kali,” kata Hamzah yang bekas penyuluh pertanian lapangan, mengaku banyak mendapatkan ilmu sewaktu mengikuti tugas belajar program Diploma 3 Akademi Penyuluhan Lapangan di Malang. Sedangkan Lalu Zulkarnain sendiri, pria kelahiran Mataram tamatan UPN Veteran Yogyakarta. 2004, saat ini adalah pegawai honor daerah Bappeda NTB selama dua tahun terakhir.
Selama lumpur Lapindo tersebut menyembur, dikatakan oleh Hamzah, tidak ada yang mengendap karena tidak ada pemisahan antara yang cair dan padat. Yang dilakukannya dengan biokatalis tersebut adalah terjadinya proses pemisahan lumpur yang cair dan padat secara bertingkat terus menerus. Endapannya diikat oleh klorofil sehingga mengendap dalam waktu 96 jam - 88,3 jam pertama penyiapan pemisahannya dan 7,7 jam selebihnya proses pembelahan memperbanyak dirinya.
Kalau pemerintah menerima usulan Santiri Foundation tersebut, berdasarkan perhitungan teori yang mereka lakukan, akan dilaksanakannya mulai 1 Mei 2006. Ketua Santiri (dari singkatan kawasan timur Indonesia) Foundation - yang aktif mengembangkan inisiatif warga, Tjatur Kukuh Suryanto mengatakan bahwa pihaknya tidak menuntut imbalan komersial. ”Penelitian yang telah berhasil dilakukan ini untuk kepentingan masyarakat dan bangsa sebesar-besarnya,” ucapnya.
Karena itu, kelak selesai berhasil melakukan penutupan tersebut, dimintanya pemerintah memberikan saham kepada masyarakat dari pengelolaan yang ditinggalkan luapan lumpur tersebut. Selain itu juga dimintanya pemerintah membangun pusat ilmu pengetahun dan teknologi untuk anak-anak muda kawasan timur Indonesia di Mataram.
Sewaktu dihubungi melalui telepon, juru bicara Tim Penanggulangan Semburan Lumpur Lapindo Rudy Novrianto meminta dikirimkan ringkasan temuannya tersebut. ”Kirimkan dulu summary-nya,” katanya. Sedangkan Lalu Mara Satriawangsa sebagai orang dekat kelompok usaha Bakri Group mengatakan menunggu tim nasional saja. ”Kami tidak ingin disebut melakukan intervensi,” ujarnya.(supriyantho khafid)


