MATARAM – Kamis (23/11) petang, pukul 18.00 Waktu Indonesia Tengah. Ada dua orang perempuan berjilbab hitam dan putih bercelana jean diantara ratusan lak-laki pekerja tambang crew B di atas pit (lubang tambang) Batu Hijau. Selesai brifing sebelum memulai pekerjaannya, mereka diangkut bus menuju Pondok Operator Haul Truck. Asmawaty, 26 tahun dan Irmayasari, 23 tahun, adalah dua dari sembilan orang operator (pengemudi) haul truck (HT) - yang digunakan mengangkut batu tambang dari dalam sumur tambang.
Petang itu, saya mendapatkan kesempatan mengikuti dari dekat Asmawaty mengemudikan HT seri 793 C bernomor 85. Semestinya, pegangan tetapnya HT Nomor 76. Kendaraan ini ukurannya tinggi sekitar tujuh meter, lebar 9 meter dan panjangnya 15 meter. Ia - dari papan layar dispatch di ruang kemudi - melihat penugasannya. Melalui jalur tambang mengambil batuan di shauvel 003 di area sumur 015 E sekitar tujuh menit dari pondok. Kemudian, membawa muatannya sebanyak 212 ton dan menumpahkannya ke tumpukan CR 01 yang menempuh waktu 20 menit. Jalannya menanjak dan menurun berbelok-belok menggunakan gigi perseneling 2-3. ”Kadang kala muatannya 225 ton,” ujarnya. Dalam satu shift kerja, bisa 18 kali angkutan.
Hari itu, Asmawaty dan Irmayasari memulai hari pertama bekerja setelah sebelumnya menjalani libur empat hari. Pekerjaan mengemudikan HT ini dijalaninya rutin empat hari bekerja dan kemudian empat hari libur. Irmayasari bersama sebagian operator masih berada di pondok yang tingginya seukuran tinggi HT untuk memudahkan operator memasuki ruang kemudi. Katanya, ia menunggu giliran. ”Saya baru jalan nanti pukul 12 malam,” katanya.
Operator tambang Batu Hijau PT Newmont Nusa Tenggara ini terbagi empat crew yaitu A, B, C dan D. Dalam sehari ada dua shift, pukul 06.00 - 18.00 dan 18.00 - 06.00. Masing-masing crew jumlahnya 250 orang untuk mengemudikan 116 HT yang dioperasikan di sana.
Sebelumnya, Asmawaty juga melakukan cek ban dan membersihkan lantai di ruang kemudinya. Di dalam ruang kemudi itu, selain ada radio komunikasi dengan pengawas, juga ada hiburan berbagai jenis lagu dari musik sentral. Ini untuk menghilangkan kejenuhan mereka yang selama 12 jam diselingi rehat waktu solat, makan atau keperluan emergency lainnya. HT itu sendiri dikatakan ringan mengemudikannya. Ibaratnya disenggol hidung saja bisa jalan.
Asmawaty, tinggi badan sekitar 150 senti dan berat badan 49 kilogram adalah anak pertama - tiga bersaudara perempuan - dari pasangan keluarga petani Abdul Karim, 45 tahun dan Tenri Elo di Dusun Semelan Desa Sekongkang Atas - masuk daerah lingkar tambang. Sebenarnya, pendidikannya Diploma Satu Jurusan Informatika di Mataram. Baru sebulan tamat, ada lowongan operator tersebut. ”Sebenarnya saya hanya bisa mengendarai sepeda motor saja. Wuih besar betul kendaraannya,” ujar ibu dari anak pertamanya Naila Ratma Alfianti yang baru berusia satu tahun tujuh bulan dari suami Fifin Sufianto, 26 tahun, yang juga operator HT crew B. Ternyata mudah. Didampingi trainer selama dua kali shift ternyata dirinya mampu.
Sebutan tambang adalah lingkungan laki-laki memang benar. Dirinya semula dihingaapi pikiran kawatir. Godaan memang dialami. Tetapi setelah bersuamikan Fifin yang juga operator, merasa tidak perlu lagi kawatir. ”Kalau sudah kawin yang tidak ada yang mengganggu,” ucapnya. Dan semua operator perempuan bekerja dalam satu crew sehingga waktu bekerja mereka sama dalam satu shift. Petang itu, Fifin Sufianto mengemudikan HT Nomor 88 yang berada di depan bergerak dari shauvel yang lain dan menumpahkan batuan ke lokasi yang berbeda.
Semula, begitu pengakuan Asmawaty, ia tidak memiliki cita-cita. Tamat SMP ingin kerja. Tapi dipaksa oleh ibunya untuk sekolah jurusan Akutansi SMK sewaktu sudah diterima mendaftar di STM. ‘’Tapi tidak hati saya sekolah itu. Maunya jurusan otomotif. Ingin kerja di Trakindo,’’ katanya. Walaupun sudah menjadi operator HT, ia tidak pernah sekalipun mengemudikan mobil di jalanan umum.
Bekerja sebagai operator HT, selama empat tahun, Asmawaty yang golongan gajinya grade B memiliki gaji dasar Rp2,7 juta. Ia enggan mengungkap besaran gaji yang diterima setelah ditambah penghasilan tambahan jam kerja dan lainnya setiap bulannya. Irmayasari sendiri mengaku gaji kotornya sekitar Rp3,5 juta setelah ia bekerja selama 3,5 tahun. Sedangkan disebutkan Arif Junaidi - suami Irmayasari - yang juga sesama operator HT, telah bekerja selama lima tahun, gaji yang dibawa pulang setelah ditambah over time, bisa Rp5 jutaan.
Asmawaty mengakui berat resiko menjalankan HT di sumur tambang walaupun disebutnya sebagai pekerjaan santai tidak jauh berbeda dengan mengendarai sedan Ia masih berkeinginan memiliki kesempatan bisa bekerja sebagai pegawai negeri sipil. Selepas bekerja di pagi hari, kalau ia menjalani shift malam hari, waktunya istirahat tidur begitu sampai di rumah. ”Hanya bangun untuk makan siang lalu tidur lagi hingga sore sebelum berangkat kerja lagi,” katanya.
Karena itu, anaknya Naila Ratma Alfianti yang kelak diinginkan menjadi pilot, lebih banyak bersama ibunya Asmawati. Kalau Asmawaty dan Fifin istirahat tidur sepulang kerja, Naila dibawa pergi ke rumah keluarga agar tidak mengganggu istirahatnya. Sore itu, menjelang berangkat kerja, Naila serasa tidak mau lepas dari gendongan Asmawaty. Sewaktu ditinggalkan memasuki mobil yang hendak membawanya ke area tambang sekitar 14 kilometer dari dusunnya, Naila menangis.
Menurutnya, kerja adalah kebutuhannya sebagai anak pertama karena bapaknya tidak bekerja. Abdul Kadir yang hanya sebagai petani lahan kering walaupun luasnya satu hektar tidak berarti bisa menyukupi hidup keluarganya. Tiga orang adiknya harus dibiayai sekolahnya.
Namun demikian, ia menyukuri bersama penghasilan suaminya Fifin Sufianto, setelah dikurangi biaya saudaranya masing-masing bisa menyisihkan membangun baru rumah permanen orang tuanya. Biaya pagar besi depan rumahnya saja menghabiskan biaya Rp30 juta. Di rumahnya yang berlantai keramik dan pintu jendelanya digantungi gordyn indah, ada tersedia kulkas, dispenser air, televisi ukuran besar, kursi tamu busa yang bagus.
Irmayasari, 23 tahun, yang suaminya Arif Junaidi juga operator, mengatakan semula ia bekerja sebagai waitres di lingkungan restoran milik PT Prasmanindo Boga Utama yang melayani karyawan PT Newmont Nusa Tenggara di dalam town site. Tamatan Jurusan Manajemen Bisnis SMK Negeri II Mataram waktu masih sekolah penasaran mengetahui sudah ada dua orang perempuan sebagai operator. ”Ada perasaan bangga.Cita-cita saya dulu terlaksana,” katanya.
Walaupun menyangkal dirinya tomboy, Irmayasari yang memelihara kuku tangannya panjang, menyebut dirinya sebenarnya pemalu, sewaktu pertama kali bekerja diolok-olok sebagai ayam potong karena badannya besar tapi lembek. Ia yang asal Jereweh Sumbawa Barat setelah 3,5 tahun bekerja sebagai operator dan berat badannya 65 kilogram dan tinggi badannya 160 senti, setelah beranak satu orang diberi nama Alya Brigita, berusia satu tahun lima bulan - diinginkan kelak menjadi dokter, mengatakan kurang istirahat. Waktu tidurnya sekitar dua jam saja sebelum berangkat kerja. ”Setiap hari saya sempatkan membawa dia jalan-jalan ke pasar dan juga memasak untuk sarapan,” ucapnya.
Namun dari pekerjaannya yang memegang tetap HT bernomor 107 bisa membangun rumah berukuran 7,5 meter kali 15,5 meter dua lantai senilai Rp205 juta. Irmayasari pun anak pertama dari empat bersaudara. Arif Junaidi, suaminya yang juga operator HT kepada Tempo mengatakan bangga memiliki istri yang mampu menjadi operator walaupun sebenarnya berat. ”Saya kasihan juga. Tapi bangga saya karena laki-laki saja tidak semuanya mampu. Ada yang mundur setelah tahu medan tambang,” ujarnya. Setelah tahu bahwa bekerja di lingkungan sumur tambang mengerikan, mereka kembali kepada bidang pekerjaaannya semula.
Hanya saja, katanya Arif Junaidi, ia menginginkan istrinya bisa berhenti bekerja kalau pembangunan rumahnya selesai. ”Biar saya saja yang menjadi operator,” katanya.
Ada pekerja tambang Batu Hijau PT Newmont Nusa Tenggara lain yang intelek dan bergengsi. Ini nama perempuan juga, Ridho Lestari, 34 tahun. Bujangan kelahiran Surabaya ini adalah tamatan Fakultas Teknik Jurusan Metalurgi Universitas Indonesia Tahun 1996. Diantara alumni seangkatannya, menurutnya, memang tidak banyak yang memilih bekerja di lingkungan tambang. Yang lainnya, umumnya bekerja di lingkungan quality control pada industri baja atau di lingkungan laboratorium dan berada di kota besar. ”Ya kalau saya lebih kotor di lapangan,” katanya seraya tertawa.
Ia mengaku telah mendapatkan pekerjaan dan lingkungan kehidupan yang disukainya - karena memiliki hobi berkendaraan off road keluar masuk hutan dan menjelajahi sungai.
Semula, begitu ia tamat kuliah, sudah pernah bekerja di perusahaan kontraktor asing yang bergerak di bidang tambang minyak. Tidak hanya di dalam negeri. Tetapi juga pernah di Jepang dan Mesir. Kemudian beralih ke Indonesia sewaktu bekerja di Mining Water Treatment di Jakarta. Kini, ia sudah delapan tahun berada di lingkungan perusahaan tambang asal Amerika Serikat, Newmont. Setelah sebelumnya lima tahun berada di tambang emas PT Newmont Minahasa Raya di Sulawesi Utara, kini memegang jabatan Senior Melallurgy Project di PT Newmont Nusa Tenggara.
Ridho Lestari, tingginya 161 senti dan beratnya 71 kilogram, yang memelihara rambut kritingnya hingga pundak dan mekar, dijuluki sebagai perempuan langka di lingkungan proyek tambang Batu Hijau PT Newmont Nusa Tenggara di Sumbawa Barat tersebut. Pekerjaannya, disebut-sebut bergengsi. Apalagi, hanya dia perempuan diantara dua warga Indonesia yang memegang posisi se level. Tiga orang lainnya dipegang oleh bule. Dan atasannya adalah Superintendent Metallurgy and Technical Services yang dipegang orang bule. Menurutnya, 80 persen mitra kerjanya adalah orang bule.
Ia menyebut jobnya adalah merupakan bagian dari Technical Services dari Processing Departement yang tugas lainnya adalah operation dan maintenance. Tugasnya adalah membantu beroperasinya pabrik. ”Tugas saya adalah membantu beroperasinya pabrik,” ujarnya. Yang dimaksud pabrik adalah konsentrator yang menjadikan batuan tambang menjadi konsentrat - hasil tambang mengandung biji tembaga, emas dan perak.
Lebih jelas, ia mengemukakan pekerjaannya adalah melihat dan mengevaluasi performance melalui proyek yang ditanganinya yaitu pengelolaan air tambang dan stockpile ore (tumpukan batuan cadangan) yang rawan asam tambang. Hubungannya dengan mining department dan environtmental. Kadang-kadang juga dengan external relation untuk membantu pengetahuan masyarakat dan kalangan pemerintahan.
Secara bergurau, perempuan yang belum menikah ini menyatakan menunggu laki-laki yang kaya raya. ”Tolong dibantu. Belum ketemu jodohnya,” ucapnya sewaktu ditemui di ruang kerjanya di lingkungan konsentrator. Dan tentunya, pekerjaannya ini juga akan ada akhirnya sewaktu kelak memiliki anak yang mengharuskannya mendidiknya sendiri.
Ia mengaku, pekerjaannya adalah dunianya sesuai kwalifikasi ilmu yang diperolehnya sewaktu kuliah. Dan ia merasa ada manfaatnya untuk perusahaan.
Mengenai lingkungan rekan kerjanya yang laki-laki, ia mengaku menikmatinya saja. Kalau toh ada yang ”mengganggunya”, ia pun menerimanya sebagai joke. Dikatakan bahwa semula pasti ada yang menganggap remeh pekerja perempuan. Apalagi pekerjaannya banyak berhubungan dengan lapangan. ”Awalnya pasti ada yang under estimate. Dulu saya anggap sebagai sesuatu yang menyedihkan,” ujarnya Mereka pikir secara fisik mampu atau akan menjadi manja tidak mau kena matahari.
Ridho Lestari adalah anak ke-6 atau perempuan kedua dari tujuh orang anak dari seorang bapak insinyur perkapalan yang dulu berkarir di Departemen Perindustrian. kini telah almarhum.
Sebenarnya, Ridho Lestari semula menginginkan menjadi seorang arsitek. Tetapi kemudian diarahkan oleh orang tuanya untuk memilih bidang ilmu yang belum banyak ditekuni orang. ”Saya tertarik dengan ilmu-ilmu mineral dan natural resources,” ucapnya. Disebutkannya bahwa dipilihnya metalurgi itu karena berkaitan dengan ilmu mengenai logam. Jadi bisa mengenai ekstraksinya, perolehannya, dan bijinya menjadi logam atau bisa juga dari logam membuat barang yang bermanfaat misalnya tembaga yang dicampur dengan segala logam lainnya untuk mendapatkan material dengan karakteristik tertentu. Yang ditekuninya adalah dari biji menjadi logam yang dimurnikan.(supriyantho khafid)


