MATARAM - Penyebab kerusuhan antar kampung di Nusa Tenggara Barat adalah maraknya peredaran minuman keras. Minuman tradisional tuak atau pabrikan. Ini adalah penyebab lain dari lunturnya suasana dialog dan lemahnya silaturahmi. Akhir-akhir ini Nusa Tenggara Barat semakin dikenal adanya tindak kekerasan dan konflik horisontal. Perkelahian antar kampung yang dipicu masalah sepele, perusakan fasilitas umum sebagai ekses pemilihan kepala desa, penyerangan akibat perbedaan paham dan aliran keagamaan, konflik kepentingan dengan pengerahan massa.
Karenanya, Gubernur Nusa Tenggara Barat Lalu Serinata meminta para bupati dan walikota serta aparat penegak ketertiban dan keamanan menertibkan dan membatasi untuk mencegah timbulnya ekses yang lebih parah. ”Yang dapat memicu konflik kini harus tetap diwaspadai,” kata Serinata, dalam rapat kerja Bupati dan Walikota se Nusa Tenggara Barat di Mataram, Sabtu (16/12).
Selain masalah perkelahian antar kampung tersebut juga dikemumakan Serinata keberadaan aliran Ahmadiyah yang dianggap mengganggu penyelenggaraan pemerintahan di daerah. Masalah Ahmadiyah ini dimintanya pemerintah pusat untuk melakukan intervensi untuk menyelesaikannya. Pembahasan setingkat menteri dikordinatori Menteri Kordinator Politik Hukum dan Keamanan masih dijadwalkan, dimintanya Kepala Kantor Wilayah Departemen Agama Nusa Tenggara Barat dan Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat Nusa Tenggara Barat melakukan komunikasi. ”Pemerintahan di daerah hendaknya persuasif mendekati dan menyadarkan kembali ke jalan yang benar,” ujarnya.(supriyantho khafid)


