MATARAM - Sepekan lalu, Sabtu (9/12), bertempat di Holiday Resort, Mangsit Lombok Barat, sebanyak 22 karya seni kontemporer dari pelukis lokal Mataram mulai digelar sebagai bentuk kepedulian terhadap HIV-AIDS. Digagas oleh Senimana Art Movement - kumpulan seniman Mataram dengan kelompok Jejaring Mulia melibatkan seniman asal Bali, Yogyakarta, Bandung dan Jakarta. Judulnya, Elan Vitale, HIV-AIDS Charities Exhibition.
Hadir Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat Bonyo Thamrin Rayes yang juga Ketua Badan Narkotika Propinsi Nusa Tenggara Barat/Komisi Penanggulangan AIDS Daerah dan Wakil Kepala Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Barat Komisaris Besar Pol Lalu Suprapta. Pameran yang sama juga dilakukan di Darmint Art Gallery Jakarta, 5 Desember 2006 - 1 Januari 2007.
Paox Iben selaku kurator mengatakan kegiatan tersebut sebagai bentuk kepedulian kemanusiaan. ”Kami seniman di Nusa Tenggara Barat prihatin. Ini bukan semata persoalan menggalang dana,” katanya. Ia mengaku para seniman mendapatkan hidup - karena pariwisata sehingga karya lukisannya dibeli wisatawan mancanegara. Tetapi pariwisata pula yang menyumbang HIV-AIDS. Menurutnya, sebenarnya penyakit AIDS yang belum ada obatnya itu bukan wilayah Departemen Kesehatan tetapi urusan Departemen Sosial, Departemen Agama dan Departemen Pendidikan.
Thamrin Rayes mengemukakan bahwa di daerahnya, sudah terdapat 62 kasus penderita HIV dan 33 kasus AIDS yang 22 orang penderitanya telah meninggal. ”Penyakit ini amat mengkawatirkan,”ujarnya.
Diantara karya mereka, seperti Mantra menyajikan Making Love berwarna biru dan hijau sebagai perpaduan tubuh pria dan wanita yang di bagian bawahnya digambarkan semacam bentuk penis berujung warna merah. Disebut oleh Thamrin Rayes sebagai pesan moral dari karya-karya yang disajikan. ”Tidak sekedar menikmati keindahan,” ucapnya Bahwa merah di bagian ujung itu adalah penyakit yang harus mengingatkan bahwa hubungan sex tidak bisa sembarang dilakukan. Harus bersih tidak mengandung penyakit yang bisa menularkan.
Kemudian ia menunjuk karya Ismiadi yang berjudul Rasa Cabai. Kondom yang diisi cabe. (Kan sekarang ada kondom yang akhir-akhir ini dijual di pasaran memiliki rasa buah, diantaranya strawberry). ”Itu artinya kan jangan tusuk sana tusuk sini. Tetap akan timbulkan penyakits,” kata Thamrin Rayes bersemangat mengomentari lukisan yang dilihatnya. Juga sewaktu menengok karya Ismiadi yang lain, judulnya Kontemplasi. Gambarnya seorang pria berkain memegang sapu lidi diantara kotoran yang tercecer.
Ada pula sajian karya Husin Nanang yang menekuni bentuk ekspresionis menyajikan bentuk dua kepala kuda yang sedang merumput. Dari sisi karya, unik sekali karena menggunakan limbah kayu pilihan pohon Ara dan juga menggunakan tepung kerang.
Hadir membuka kegiatan tersebut, pemerhati seni rupa kelas internasional Oei Hong Djien, 67 tahun, dari Magelang. Ia mengawali berbicara tentang seniman di Lombok yang lebih baik kondisi ekonominya dibanding seniman Yogyakarta. Walaupun seniman Yogyakarta memiliki kwalitas lebih unggul dan sering mendapatkan penghargaan dari karyanya. ”Ternyata pasar karya seniman di Lombok sudah banyak yang dibawa ke Eropah,” ucapnya. Karena itu, ia meminta seniman Yogyakarta ikut datang meramaikan peluang pasar seni di Lombok dan sebaliknya seniman Lombok belajar dari Yogyakarta.
Oei Hong Djien juga berbicara masalah Indonesia yang ketinggalan pasar karya seninya dibanding seniman Cina. Sebabnya diantaranya karena kondisi ekonomi yang jelek berbeda dibanding Cina yang mampu menembus seluruh dunia. menyatakan bahwa pengaruh karya seniman muda Cina sangat luar biasa. Kini harga karya mereka lebih tinggi dibanding karya seniman Indonesia.
Menurutnya, sebenarnya di kalangan Asia Tenggara, karya seni Indonesia nomor satu. Cuman fenomena menyolok sekarang ini adalah Cina. ”Sangat merajalela menguasai segala-galanya. Tidak hanya di Asia tetapi juga di dunia,” ujarnya, Sabtu (9/12) malam sebelum membuka Elan Vitale yang diselenggarakan selama sebulan 9 Desember 2006 – 9 Januari 2007 di Holiday Resort.
Di bidang seni rupa, Cina mengalami booming sehingga karya seni rupanya utamanya kontemporer, disukai. Kenaikan harga karya mereka, tanpa disebut nilainya, sangat luar biasa. Sehingga dunia, diantaranya Eropah dan Amerika Serikat tertuju perhatiannya ke Cina. Galeri dari Jerman pun buka di Cina untuk mendapatkan karya Cina guna dipasarkan di London atau New York.
Padahal, 5-10 tahun lalu, lukisan terkenal dari pelukis Indonesia Afandi, Hendra, Sudjojono jauh diatas Cina. Tetapi sekarang terbalik. Masalahnya, ekonomi Cina luar biasa. Dan juga banyak orang mengoleksi selain seniman Cina juga banyak melakukan promosi yang baik dan dibekali track record. Demikian pula minat pendidikan akademi seni pun melonjak dari seratus orang setahun menjadi ribuan.
Ia yang baru pulang melakukan presentasi di Hongkong melihat pengaruhnya. Sebenarnya, karya seniman Indonesia tidak kalah dengan karya seniman Cina. Lima tahun lalu harga karya seniman Indonesia masih di atas dibanding karya seniman Cina. ”Sekarang karya dari Affandi dan Hendra tersalip seniman muda Cina,” ujarnya tanpa menyebut nominalnya.
Dikatakan bahwa seniman Cina memang didukung negaranya yang ekonominya bagus. Umumnya mereka profit oriented. Lukisan Cina sangat banyak memberikan profit yang sangat cepat. ”Justru karena itu, harga lukisan kita turun,” ucapnya. Dicontohkannya situasinya bahwa yang membeli lukisan di Hongkong bukan lagi orang Indonesia seperti dulu. Tetapi orang Hongkong dan Taiwan.
Seniman di negeri tirai bambu tersebut dikatakannya lebih siap tampil dengan profil yang lengkap dan semuanya dibekali buku-buku karena memang cetak buku di sana murah. Sedangkan seniman kita tidak dibekali apa-apa. ”Kalau ditanya ada siapa dan track recordnya mana, tidak tahu,” katanya.
Padahal seniman Indonesia juga berkiprah mengikuti pagelaran lukisan tidak hanya di dalam negeri saja tetapi juga di luar negeri. Seniman Indonesia disebut oleh Oei Hong Djin juga tampil mengikuti kegiatan Jerman, Sao Paolo, Australia, Jepang.(supriyantho khafid)

