MATARAM - Selama ini tidak pernah dicapai kesepakatan budaya antara pikiran para ulama dengan para seniman budayawan. Penampilan kreasi seniman budayawan dianggap sebagai sesuatu yang menghambat agama, dianggap sebagai di luar konteks agama. Padahal budaya itu nilainya luhur dari hati yang dalam para insan kami. Selama ini, bila bicara budaya dianggap kekafiran.
Masalah tersebut mengemuka para pertemuan Kerapatan Adat, Dialog Budaya dan Isu-Isu Strategis Kebangsaan yang berlangsung di Mataram, Sabtu (16/12). Acara ini diselenggarakan dalam kaitan Pekan Apresiasi Budaya Nusa Tenggara Barat ke 13 dan ulang tahun ke 48 Nusa Tenggara Barat, 17 Desember.
Disebut oleh Ketua Yayasan Kebudayaan dan Pariwisata Nusa Tenggara Barat H.Djalaludin Arzaki sebagai contohnya. Para santri yang keluar pondok, hanya mengucap salam saja bersuara keras tanpa menggunakan adat istiadat apabila bertamu ke rumah seorang. Kalau di Lombok sini, seharusnya mereka juga wajib ketuk pintu. ”Dan mengucap Tabik Walat Kanggo tiang tame,” ujarnya. Maksudnya, permisi bisakah masuk ke dalam rumah.
Sebelumnya, Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat Bonyo Thamrin Rayes mengemukakan prihatin manakala budaya daerah menjadi yang sesuatu yang asing di kalangan generasi muda. Semakin prihatin manakala sebagian oknum menjadikan perbedaan budaya, adat istiadat atau agama sebagai pemicu konflik antar kampung, antar etnis, antar suku dan lainnya. ”Dalam kaitan ini, budaya kiranya mampu menjadi penangkis ancaman dan gangguan pemecah belah persatuan masyarakat,” ucapnya.
Menurutnya, kebudayaan bersifat dinamis seiring dengan dinamika kehidupan masyarakat. Budaya tradisional merupakan cikal bakal budaya modern yang masing-masing memiliki ruang tersendiri dalam kehidupan masyarakat.
Acara kerapatan adat yang diikuti oleh para pemuka masyarakat etnis Sasak (Lombok), Samawa (Sumbawa), Mbojo (Bima), diselenggarakan karena menurut Kepala Kebudayaan dan Pariwisata Nusa Tenggara Barat Muhammad Nur selama ini yang selalu melakukan kerapatan adat adalah dinas dan instansi lain, forum-forum lain. Padahal kerapatan adat sebagai embrio lahirnya Indonesia belum pernah disentuh. Adat dan budaya adalah ruh dari suku bangsa. Oleh karena itu direfleksikan kembali dan merevitalisasi kekuatan bangsa. ”Maka inilah waktunya untuk kelahiran NTB,” ujarnya.
Muhammad Nur juga menyebutkan tiga tradisi yang sudah pasti menyebabkan gesekan yaitu pertama bagaimana seorang manusia terlahir memiliki tata tutur kata yang baik. Yang kedua tata laku yang baik. Yang ketiga adalah tata cara yang baik. Karena ini tidak dikemas dalam dinamika kekinian maka terjadi degradasi hubungan manusia yang satu dengan manusia yang lain yang muda dipicu oleh persoalan kecil menjadi persoalan besar. Persoalan komunitas kecil menjadi persoalan komunitas besar. ”Ini semua dampak yang sangat nyata di lapangan,” ucapnya.(supriyantho khafid)


