MATARAM - 54 orang warga asal tiga daerah yang mengalami berulang kali kejadian bentrokan di Lombok menjalani pelatihan manajemen konflik di Mataram. Yang melakukannya Badan Pendidikan dan Latihan Pemerintah Propinsi Nusa Tenggara Barat (Badiklat Pemprop NTB) bekerja sama dengan Indonesia Australian Specialis Traing Project (IASTP) yang membiayainya.
Kamis (14/12), Kepala Badiklat NTB Lalu Moh. Kasim menyebutkan pelatihan diberikan kepada mereka yang berasal dari dua daerah sengketa Karang Genteng – Petemon di Mataram, bentrokan tanah lokasi bandara internasional Lombok di Tanak Awu Lombok Tengah, dan kasus pembunuhan mahasiswa oleh penjaga kampus bayaran di IKIP Mataram. ”Pelatihan ini diberikan hanya setelah terjadinya konflik,” ucap Kasim.
Pengajarnya berasal dari Training Provider yang berasal dari Australia, Inggris dan Universitas Gajah Mada Yogyakarta. Manajemen Konflik tersebut diberikan selama 17 hari kepada 14 orang tokoh masyarakat, agama, LSM dan selanjutnya mereka melanjutkannya kepada 40 orang warga setempat, agar dapat menangani masalah sehingga tidak melebar. ”Baru kali ini manajemen konflik ini diberikan,” ujarnya.
Gubernur NTB Lalu Serinata sebelumnya menyatakan keprihatinannya karena masyarakat mudah terlibat tindak kekerasan yang merugikan. Setiap ada masalah diselesaikan dengan cara pertumpahan darah. Sebagian kalangan generasi muda seperti sudah lagi memperhatikan dan menaati peraturan, norma dan etika. Konflik sangat mudah terjadi baik antara perorangan, kelompok masyarakat dan yang lebih prihatin adalah munculnya kasus perkelahian antar kampung, hanya bermula masalah sepele.(supriyantho khafid)


