MATARAM - Untuk keperluan mendekatkan pelayanan kepada para TKI asal Nusa Tenggara Barat, Pemerintah Propinsi Nusa Tenggara Barat akan membuka pos pelayanan di Batam dan Nunukan. Dari kedua kota tersebut, tidak sedikit para calon dan TKI keluar masuk ke Malaysia untuk bekerja di perkebunan kelapa sawit.
Tidak ada keraguan Pemerintah Propinsi Nusa Tenggara Barat membuka pelayanan di dua daerah tersebut. Secara fungsional memang dibutuhkan untuk lalu lintas ke luar masuk ke negara tujuan kerja. ”Utamanya ke Malaysia,” kata Kahumas Pemerintah Propinsi Nusa Tenggara Barat Lalu Gite Aryadi, Jum’at (8/12) di kantornya.
Menurutnya, pos pelayanan tersebut berfungsi sebagai penghubung yang menjadi unit pelaksana teknis Dinas Tenaga Kerja Nusa Tenggara Barat. Kantor semacam penghubung tersebut sudah dibuka oleh Pemerintah Propinsi Nusa Tenggara Barat untuk keperluan pelayanan informasi pariwisata di Denpasar Bali.
Adanya kantor penghubung tersebut memang dibutuhkan guna bisa memberikan pelayanan dan perlindungan secepatnya apabila terdapat kesulitan yang dialami oleh warga Nusa Tenggara Barat. Apalagi Batam dan Nunukan adalah daerah potensial sebagai pintu keluar masuk menuju Malaysia Barat maupun Malaysia Timur.
Setiap bulan, rata-rata 3.000 orang sebagian besar asal Lombok menjadi TKI ke Malaysia sebagai pekerja perkebunan kelapa sawit. Mereka ini diberangkatkan secara resmi melalui penerbangan dari Mataram via Surabaya menuju Kuala Lumpur. Tetapi, yang berangkat secara ilegal pun cukup besar. Umumnya melalui Batam.
Wakil Gubernur NTB Bonyo Thamrin Rayes yang pernah berkunjung ke Nunukan Kalimantan Timur, menyebutkan bahwa di sana terdapat 100.000 jiwa penduduk asal NTB, diantaranya 80.000 jiwa asal Lombok.
Selain itu, guna ikut memajukan investasi dan pariwisata Nusa Tenggara Barat, Duta Besar Indonesia di Korea Selatan Jakob Tobing pun selama tiga hari ini berada di Mataram bersama belasan duta besar negara sahabat yang berkedudukan di Seol Korea Selatan. Mereka antara lain adalah berasal dari Mexico, Argentina, Norwegia, Selandia Baru, Austria, Honduras, Peru, Turki. ”Ini upaya yang bagus. Mereka yang datang ke sini, melihat langsung,” ucap Gite.(supriyantho khafid)


