MATARAM - Mulai Selasa (28/11) pagi, 16 orang pelajar International School of Singapore melakukan bersih-bersih sampah di pegunungan Rinjani. Mereka yang didampingi oleh lima orang mahasiswa Akademi Pariwisata, dibantu Lombok Hotel Association (LHA), Rinjani Trekking Management Board (RTMB), 80 orang porter Rinjani, dan pelaku pariwisata lainnya yang membantu menyediakan tenda dan kantong tidur.
Sebagai Carity Event Rinjani Clean Up mengisi waktu liburnya, selama tiga hari hingga Kamis (30/11) sore di atas gunung Rinjani, para pelajar setingkat SMA yang dikordinatori oleh George Matthew tersebut akan memunguti sampah sepanjang perjalanan dari Senaru dan di atas puncak. Ini adalah merupakan wujud pelajaran ecotourism, berlibur sambil berkegiatan. ”Mereka membiayai sendiri ongkos pesawat perjalanannya ke sini,” kata Outdoor Adventure Director Asian Detours Colin Koh, yang menggagas kegiatan tersebut. Tidak ada yang menerima keuntungan dari acara bersih-bersih oleh pelajar Singapura tersebut.
Colin Koh mengatakan penyesalannya sewaktu melihat banyaknya sampah di pegunungan Rinjani, dalam pendakian yang dilakukan sebelumnya, tahun lalu. Padahal Rinjani adalah peraih penghargaan World Legacy Award in the category Destination Stewardship tahun 2004 dari National Geographic Traveller di Washington dan Inovasi Kepariwisataan Indonesia, 2004 dari Menteri Kebudayaan dan Pariwisata. Terakhir, 2005, masuk nominasi Tourism for Tomorrow Award dari World Travel andTourism Council di Inggris. Karena itu, ia menggagas adanya wisata bersih-bersih pelajar Singapura tersebut. Masing-masing menanggung sendiri biaya pesawatnya pergi pulang S $ 1.000.
Menurut Kepala Dinas Pariwisata Seni Budaya Kabupaten Lombok Barat Tjokorda Suthendra Rai yang juga ketua RTMB, para pendaki lokal yang jumlahnya ribuan orang setiap tahunnya membuang sampah sewaktu melakukan perjalanan ibadah karena tidak memahami kebersihan lingkungan. ”Pendaki lokal tidak memahami,” ucapnya. Padahal sebulan dua kali sudah dilakukan upaya bersih-bersih sampah gunung Rinjani.
Tjok, panggilan sehari-harinya, mengemukakan bahwa masalah gunung Rinjani adalah tidak semua pendaki mentaati aturan pendakian, melalui pintu yang ditetapkan. Juga karena sok tahu, tidak adanya kepatuhan pendaki menggunakan porter sehingga menimbulkan kecelakaan. Juga barang bawaan harus dibawa kembali turun dari gunung Rinjani.(supriyantho khafid)




