MATARAM - Sebagian besar pasien Rumah Sakit Umum Mataram adalah pasien miskin. Jumlahnya mencapai 65 persen atau 20.727 orang selama 10 bulan terakhir, 2006. Yang menjalani perawatan di poliklinik sebanyak 10.222 orang, di Instalasi Rawat Darurat 5.240 orang dan rawat inap 5.265 orang. Tetapi, pembayaran biayanya dari PT Persero Asuransi Kesehatan setiap bulannya Rp600-700 juta sebulan mengalami kendala keterlambatan hingga 2-3 bulan.
Direktur RSU Mataram Selamet Tjahjono, Wakil Direktur Pelayanan Wawang Oerijanto dan Kepala Bidang Pelayanan Supana mengemukakannya kepada wartawan, di Kantor Sekretariat Daerah Nusa Tenggara Barat, Selasa (21/11) siang. ”Pasien miskin sebenarnya membayar. Justru sebagian besar pendapatan RSU Mataram dari mereka,” ujarnya.
Namun, Kepala Bidang Pelayanan Supana menyebutkan adanya kendala pembayaran klim dari PT Persero Asuransi Kesehatan. ”Dana terlambat datang mempengaruhi pelayanan,” ujarnya Supana. Katanya, verifikasi yang dilakukan sangat tergantung jumlah staf yang terbatas. Karenanya, mempengaruhi waktu enty data yang lambat.
Besarnya jumlah pasien miskin di RSU Mataram karena kebijakannya memang tidak membolehkan penolakan kedatangan pasien miskin. Mereka yang memerlukan perawatan gratis bisa membawa kartu asuransi kesehatan miskin, kartu sehat atau keterangan tidak mampu. ”Saya pun bisa menentukan miskin tidaknya pasien yang tidak memiliki identitas kemiskinannya,” katanya.
Secara keseluruhan, selama RSU Mataram melayani 148.547 pasien, yang terinci di poliklinik 107.733 orang, di instalasi rawat darurat 30.590 orang, dan yang rawat inap 10.224 orang.(supriyantho khafid)




