MATARAM - Untuk pengajuan perizinan rute penerbangan memerlukan waktu dua bulan. Ini dialami oleh Batavia Air yang membuka jalur baru Surabaya - Mataram, yang baru terlaksana, Rabu (8/11) petang kemarin. Keterlambatan perizinan dari Departemen Perhubungan tersebut diduga akibat birokrasi yang menghitung porsi penumpang oleh maskapai penerbangan yang sudah mengisinya.
Direktur Operasi Batavia Air Capt.Tatit Samiadji mengemukakannya setelah penerbangan perdana yang disambut Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat Bonyo Thamrin Rayes di ruang VIP Bandara Selaparang. ”Saya tidak salahkan Departemen Perhubungan. Mungkin karena punya hitungan sendiri, maka lambat izinnya,” kata Tatit.
Rute Surabaya - Mataram dari Batavia Air ini adalah kota ke-31 yang dijangkau dari seluruh propinsi - kecuali Nangro Aceh Darussalam - yang dijangkau pelayanan penerbangannya. Batavia Air juga belum mendapatkan izin ke Sorong dan Merauke serta rute Surabaya - Batam agar memudahkan para TKI ke Johor.
Adapun rute ke Mataram ini akan ditingkatkan untuk penerbangan lanjutan wisatawan asal Guangzhu Cina yang disebut oleh Tatit Samiadji menyukai plesiran. Selain itu Batavia Air juga telah memiliki rute Kucing Malaysia. Menurutnya, target Batavia Air adalah pertama untuk kepentingan kedatangan wisatawan, transportasi TKI dan sebagai pelayanan nasionalis transportasi ke seluruh wilayah nusantara.
Untuk operasional penerbangannya setiap harinya 19-21 unit pesawat yang terbang. Tahun 2007 nanti akan dibuka rute baru internasional ke Perth Australia Barat dan Timur Tengah.
Batavia Air yang memulai operasi penerbangan tahun 2002 menggunakan masing-masing satu unit F 28 dan B 737-200 kini telah mampu berkembang menjadi memiliki 16 unit B 737-200, 9 unit B 737-300, 4 unit B 737-400, dan 2 unit Airbus 319. Selanjutnya, tahun 2007 mendatang akan menghapus 16 unit pesawat B 737-200 dan Batavia Air sudah memesan tambahan 3 unit B 737-300, 10 unit Airbus 320 dan 4 unit B 737-800.(supriyantho khafid)


