MATARAM - Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Barat (Polda NTB) mengerahkan 2.600 personil polisi untuk pengamanan arus mudik dan lebaran selama dua pekan mendatang. Mereka akan ditugasi menjaga keamanan para warga yang mudik dan TKI/TKW yang pulang berlebaran dari Malaysia, Saudi Arabia agar tidak dijadikan korban pemerasan di bandara, pelabuhan dan terminal.
”Mereka yang mengganggu akan ditindak tegas. Kasihan. Jangan sampai diganggu,” ujar Kepala Polda NTB Brigjen Pol Wawan Hendrawan, selesai gelar pasukan Operasi Ketupat di Lapangan Gajah Mada, Senin (16/10) pagi. Anggota polisi yang dikerahkan untuk pengamanan lebaran tersebut tidak hanya berada di posko yang dibangun tetapi juga akan bergerak keliling menggunakan mobil dan motor patroli mewaspadai kejahatan terhadap rumah penduduk yang ditinggal mudik ke kampung asalnya.
Selain lebaran Idul Fitri, polisi juga mengamankan pelaksanaan acara khusus Lebaran Ketupat yang biasanya dirayakan masyarakat Lombok pada hari ketujuh lebaran. Semua anggota polisi yang bertugas diarahkan untuk mengamankan lokasinya di kawasan wisata Senggigi.
Sebelumnya, membacakan sambutan tertulis Kepala Polri Jenderal Sutanto, diperkirakan ada empat kerawanan yang berpotensi menimbulkan gangguan kamtibmas. Yaitu di bidang idiologi politik adalah adanya kritikan terhadap kinerja dan kebijakan pemerintah yang tidak berpihak kepada masyarakat, serta sorotan terhadap kinerja DPR yang dinilai kurang baik dan pandangan tentang lemahnya kinerja aparat penegak hukum dalam pemberantasan korupsi. Selain itu adanya tuntutan dari kepala desa yang menagih janji pengangkatan sebagai PNS.
Di bidang sosial ekonomi, adalah kelangkaan BBM dan terbatasnya pasokan listrik di beberapa daerah serta kenaikan harga barang termasuk sembako yang telah menimbulkan keresahan masyarakat.
Di bidang sosial budaya, menurut Jenderal Sutanto adalah pemberian tunjangan hari raya yang tidak memadai dan meningkatnya pengangguran akibat pemutusan hubungan kerja serta tradisi budaya mudik yang dapat menimbulkan kerawanan selain belum tuntasnya penanganan rehabilitasi bencana alam.
Adapun di bidang keamanan, belum tertangkapnya tokoh terorisme Nurdin M Top dan pasca eksekusi Tibo dan kawan-kawan selain penertiban pedagang kaki lima dan gubug-gubug liar.(supriyantho khafid)


