MATARAM - Penduduk Nusa Tenggara Barat yang mengalami gangguan kejiwaan cukup tinggi. Yang menjalani perawatan di Rumah Sakit Jiwa Mataram saja, jumlahnya mencapai 1.616 orang. Terbanyak dari Kabupaten Lombok Timur diantaranya adalah para TKI yang mengalami kegagalan. ”Jumlah ini cukup signifikan. Belum yang menjalani perawatan di rumah sakit lain atau ke puskesmas dan yang hanya di rumah,” kata psikater dr.Elly Rosila Wijaya Sp.KJ, Selasa (10/10).
Elly yang juga dokter di Rumah Sakit Jiwa Mataram mengemukakannya kepada wartawan menyambut Hari Kesehatan Jiwa se Dunia, 10 Oktober. Menurutnya, empat besar kasus penderita mengalami gangguan paranoid sebanyak 359 orang, skizofrenia (290), depresi (286) dan gangguan psikologis akut (269). Penderita lainnya mengalami neorosa, epilepsy, gangguan affektif, parafrenia, retardasi mental, sindroma ketergantunan obat dan lainnya.
Menurutnya, ia mengingatkan bahwa penderita gangguan jiwa masih disembuhkan. Karena itu ia melarang keluarga penderita melakukan pemasungan. ”Kalau sangat terlambat, targetnya diterapi. Kita hilangkan waham halusinasi kepada dirinya sendiri,” ujarnya.
Selama tahun 2005, sejumlah 7.089 orang yang melakukan kunjungan ke Rumah Sakit Jiwa Mataram. Dari penderita laki-laki 4.183 dan perempuan 2.906, secara keseluruhannya terbanyak adalah usia 15-24 tahun mencapai 2.735 orang. Di urutan kedua, 2.227 orang usia 25-44 tahun, uisa kurang dari 45 tahun sebanyak 1.796 orang dan kurang dari 14 tahun sebanyak 331 orang.
Berdasarkan pendidikannya, 2.765 orang berpendidikan SLTA, 1.630 orang tidak sekolah/buta huruf, 993 orang tamat SD, 919 orang berpendidikan perguruan tinggi/akademi, dan yang berpendidikan SLTP 782 orang.
Peristiwa kehidupan sulit memungkinkan terjadinya gangguan jiwa yang berakhir fatal bunuh diri. Dikatakan oleh Elly Rosila Wijaya pula mengutip data periode Januari-September 2005 lalu, di Bali terdapat 115 kasus bunuh diri. Sebelumnya 2004, tercatat 121 pelaku bunuh diri yang terinci 82 orang laki-laki dan 33 orang perempuan usia 7-15 tahun 8 orang dan usia lanjut juga 8 orang. Sedangkan di Jakarta pada tahun 1995-2004, angka bunuh dirinya 5,8 per 100.000 jiwa penduduk mayoritas laki-laki. Dari 1.119 kasus sebanyak 41 persen gantung diri, 23 persen minum racun serangga, sisanya 356 orang meninggal karena overdosis narkoba.(supriyantho khafid)


