MATARAM - Selama dua pekan, 16-30 September 2006 ini, ada 36 karya sketsa milik dua orang perupa lokal dipamerkan di Taman Budaya Nusa Tenggara Barat. Pameran sketsa ini tidak pernah dilakukan sebelumnya. Karena selama ini yang diselenggarakan lebih banyak pentas teater lokal mapun modern, musik ataupun pameran lukisan.
Adalah seorang pelukis senior di Mataram M Tarfi Abdullah, 62 tahun, bersama tonie Moersajid, 48 tahun - bekas mahasiswanya di Sekolah Tinggi Kesenian dan Kerajinan, yang mengeluarkan simpanan karyanya untuk mengisi agenda kegiatan Taman Budaya Nusa Tenggara Barat. ”Sketsa itu dasar melukis. Tapi nilainya sama dengan lukisan,” kata Tarfi, tamatan Senirupa STSRI ASRI Yogyakkarta, 1969.
Tarfi yang menjalani pensiun muda dari PNS tahun 1996, antara lain mengeluarkan karyanya Sudut Pasar dan penari Gandrung. Juga sewaktu melakukan perjalanan menunaikan ibadah haji, 1994. Di sana, ia menggores sketsa Kota Jidah Dari Lantai 2 Madinatul Hujaj dan monumen ruang angkasa di Jidah Saudi Arabia. Lainnya, berjudul Jalan-Jalan, tentang sorang pria tua dikursi roda didorong seorang wanita sementara di bagian belakangnya tampak sepasang remaja.
Dalam pameran kali ini, ia mengajak Tonie Moersajid, seorang PNS di Balai Latihan Kerja Mataram yang dinilai memiliki kesamaan kegemaran membuat sketsa. Tonie sendiri mengaku bangga dipilih Tarfi menjadi pendamping dalam pameran sketsanya. Tonie, diantaranya menyajikan salah satunya Pose Wanita yang termenung di bangku dagangannya, dibuat menggunakan bolpen di atas kertas atau gambar alam Menikmati Senggigi yang dibuat menggunakan spidol di atas kertas dan Antara Batu Bolong dan Senggigi menggunakan media pensil di atas kertas. Ia pun punya koleksi sketsa gedung pencakar langit sewaktu berkunjung pameran lukisan di Kuala Lumpur. Juga kepeduliannya terhadap seorang seniman keroncong lokal Helmy Anwar.
Bicara masalah obyek, Tarfi menyebutkan apa saja bisa menarik perhatiannya, memiliki kekuatan imajinasi sehingga dibuatnya. ”Dan sketsa adalah karya jadi. Kepuasannya sama saja dengan lukisan,” ucapnya. Hanya saja, masalah waktu yang membedakan lama singkatnya. Seperti melukis tidak hanya 2-3 hari selesai tetapi juga bisa sebulan.
Sesungguhnya dikatakan oleh Tarfi, sketsa kini kurang diperhatikan. Seharusnya sekolah seni rupa harus kuat kemampuan sketsanya. Adalah pelatihan untuk menggores dalam menghasilkan karya lukisan. Namun karya sketsa diakuinya kurang diminati untuk dimiliki seseorang. Dan semestinya, sketsa ini dikerjakan oleh mahasiswa seni rupa sewaktu baru memasuki pendidikan. Bahkan pula tes terhadap calon mahasiswanya. Menurutnya, membuat sketsa merupakan indikasi kemampuan penangkapan sebuah obyek dengan bahan sederhana. Sketsa ini sangat bermanfaat besar untuk anak yang melakukannya. ”Sketsa ini kuat untuk berekspresi,” katanya.
Sebagai seorang yunior-nya Tarfi, diakui oleh Tonie, yang formal pendidikannya STM Bangunan banyak melakukan diskusi untuk mampu menjadikan sketsa yang ditekuninya sejak kuliah jurusan patung Sekolah Tinggi Kesenian dan Kerajinan di Mataram tapi hanya bertahan enam semester sebelum lembaganya bubar. Karena itu tidak heran kalau banyak koleksinya yang dibuat sejak mulai kuliah, tahun 1990an. Ia melakukannya sejak perkuliahan yang memintanya membuat sketsa hingga 505 karya jadi yang diterima dosen dalam satu semester.
”Sketsa adalah karya yang menggunakan media garis dan blok dan ada titik tanpa warna,” ujarnya. Sedangkan lukisan, menggunakan media garis, bidang dan warna. Ia sendiri menyebutkan hasil sketsanya diberi judul Ngrampek - buruh tani merontokkan padi di sawah - sempat membuat dirinya tersanjung sewaktu seorang pelukis asing membayarnya sewaktu diselenggarakan pameran.(supriyantho khafid)


