Lombok Sumbawa Online
Jual Fiber Optic Link IIX untuk Seluruh Indonesia
FULL FO sampai pelanggan, cocok untuk korporat, game online, isp dll.
tarif: 1 Mbps=13jt, 2Mbps=15jt, 4Mbps=20jt, 6mbps=26jt, 10Mbps 35jt per-bulan.
kami juga menyediakan bandwidth internasional 10jt/Mbps per-bulan
info lebih lanjut hubungi : 081353570001
Google
 
Tuesday, 26 September 2006 • EKONOMI

MATARAM - Nusa Tenggara Barat (NTB) membantu suplai kebutuhan beras penduduk di Flores Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Ambon Maluku. Hingga Agustus 2006 lalu, jumlahnya mencapai 21.800 ton. Sedangkan suplai gabah kering giling ke Banyuwangi dan Jember di Propinsi Jawa Timur mencapai 8.000 ton.

Kepala Bidang Distribusi dan Harga Pasar Badan Urusan Ketahanan Pangan NTB Pending Dadih Permana menjelaskan, Selasa (26/9) siang. ”Pengiriman tersebut dilakukan karena NTB surplus beras,” ujarnya. NTB dikatakannya menghasilkan produksi padi hingga 1.503.000 ton gabah kering giling (gkg). Kelebihannya dalam bentuk beras hingga 323.000 ton. Jumlah tersebut setelah digunakan untuk memenuhi kebutuan pangan masyarakat sendiri juga digunakan untuk membantu kebutuhan propinsi tetangga, NTT termasuk Bali baik melalui Perum Bulog maupun antar pengusaha langsung.

Namun diakui oleh Pending Dadih Permana, beras produksi NTB belum mampu dijual ke Pasar Induk Cipinang di Jakarta. Alasannya kwalitas pasca panen dan proses mesin giling yang kurang baik. Kehilangan kwantitas panenannya mencapai 15-20 persen. Selain itu, kwalitas beras pecah masih tinggi di atas 15 persen. ”Ini kendala produk beras NTB dijual ke Jakarta,” katanya. Padahal, gabah NTB bisa diklasifikasi baik utamanya yang berasdal dari Lape Lopok dan Plampang di Sumbawa, serta Lombok Timur mampu menjadi beras kepala setelah digiling di Jember. Ini disebabkan dari hasil mesin giling berasnya hanya kurang dari delapan persen yang patah. Dari sana, oleh pengusaha Jember dijual hingga memenuhi kebutuhan masyarakat perusahaan tambang PT Freeport Indonesia di Timika Papua.

Meskipun NTB mengalami surplus beras, Pending Dadih Permana juga mengakui adanya 55 desa rawan pangan di tujuh daerah kabupaten dan kota. Di sana, dibentuk 440 kelompok tersebar di 40 desa yang memiliki lahan kering. Selain itu juga ada program Participatory Integrated Development in Rainfed Areas (PIDRA) di tiga kabupaten se pulau Lombok. Dana masyarakatnya sendiri terhimpun Rp2,6 miliar selama lima tahun terakhir.(supriyantho khafid)

No Comments »

No comments yet.

Leave a comment








Recent Comments
» LALU SERINATA MENOLAK DIBAWA KE KEJARI MATARAM
11/27/2008 03:47 pm | 10 Comments
» KPI CEGAH TAYANGAN KEBANCI-BANCIAN
11/26/2008 09:36 pm | 1 Comment
» PEJABAT TERLAMBAT DATANG, PINTU RUANGAN DITUTUP
11/26/2008 06:25 pm | 3 Comments
» BEASISWA NEWMONT NUSA TENGGARA UNTUK 8.493 SISWA
11/26/2008 01:26 pm | 3 Comments
» PNS SE NTB DIPERIKSA KESEHATANNYA
11/25/2008 09:18 pm | 1 Comment
Lomboknews.com - 2007 - Media Lombok - Developed by andiraweb.com | busby seo challenge