Lombok Sumbawa Online
Jual Fiber Optic Link IIX untuk Seluruh Indonesia
FULL FO sampai pelanggan, cocok untuk korporat, game online, isp dll.
tarif: 1 Mbps=13jt, 2Mbps=15jt, 4Mbps=20jt, 6mbps=26jt, 10Mbps 35jt per-bulan.
kami juga menyediakan bandwidth internasional 10jt/Mbps per-bulan
info lebih lanjut hubungi : 081353570001
Google
 
Saturday, 23 September 2006 • LINGKUNGAN

Jum’at, 22 September 2006 | 14:13 WIB TEMPO Interaktif, Jakarta:

Bentuknya memang kecil, berbeda dengan bawang putih besar dan bersiung banyak yang umum dijumpai di pasar tradisional dan pasar swalayan. Tapi bawang putih dari Gunung Rinjani ini istimewa. Kandungan seleniumnya amat tinggi.

Selenium merupakan mineral yang amat dibutuhkan manusia. Dalam bentuk selenoprotein–setelah bergabung dengan protein–senyawa ini bisa menjadi antioksidan pencegah kanker, bahkan menggempur sel kanker sampai mati. Bukan sembarang bawang putih yang punya khasiat ini. Cuma bawang putih yang tumbuh di tanah vulkanis yang bersulfur tinggi.

Selenium memang banyak terdapat dalam tanah dengan kandungan sulfur tinggi. Selenium juga terdapat pada sumber air panas di daerah gunung berapi. Bakteri yang hidup di air panas itu juga memiliki kemampuan menyerap selenium sekaligus mengubah sifat toksik mineral itu menjadi nontoksik. Aman bagi manusia.

Mekanisme “mesin pengubah” pada mikroba termofilik, yang hidup dalam suhu tinggi, itulah yang diincar Novik Nurhidayat, peneliti dari Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Riset tentang tumbuhan daerah vulkanis yang telah ditekuninya sejak 2001 itu juga yang membawanya meraih dua penghargaan. Pada 2002, dia menerima penghargaan sebagai ilmuwan muda UNICEF Man and Biosphere. Ketika itu, dia meneliti ekstraksi selenium dari benalu teh yang digunakan secara tradisional oleh penduduk di taman biosfer Gunung Gede.

Penghargaan kedua diterimanya dari LIPI pada pertengahan September lalu atas risetnya tentang tumbuhan dan mikroba daerah vulkanis sebagai sumber bahan bioaktif selenoprotein untuk antioksidan, pencegahan, dan terapi kanker. Karyanya ini terpilih sebagai karya terbaik kategori eksplorasi.

Riset Novik memang tergolong eksplorasi. Untuk mengumpulkan herba dan bakteri termofilik vulkanis ini, dia sengaja mencarinya di Gunung Kerinci-Seblat di Sumatera, dataran tinggi Toraja di Sulawesi, dan Gunung Rinjani di Lombok. “Dua gunung berapi ini adalah gunung tertinggi di Indonesia dan belum dieksplorasi,” kata Novik. Apalagi doktor bidang mikrobiologi dari Kansas State University, Amerika Serikat, ini memang punya hobi jalan-jalan. “Gunung Salak, Gunung Gede, atau Tangkuban Perahu juga ada sumber air panasnya,” katanya. “Tapi gunung di Jawa sudah banyak dipelajari.”

Selain unik, sumber air panas di Gunung Kerinci-Seblat memiliki temperatur ekstrem, mencapai 120 derajat Celsius. Sedangkan sumber air panas Gunung Rinjani diambil dari sebuah gua yang cukup sulit ditempuh. Sebenarnya tidak cuma bawang putih yang diteliti Novik. Dia mengekstraksi selenium dari sejumlah herba yang tumbuh di daerah gunung berapi itu. Mulai bawang putih, tempuyung (Sonchus arvensis), cocor bebek (Kalanchoe pinnata), ciplukan (Physalis minima), pegagan (Centella asiatica), sampai keluarga terung-terungan Solanum sp.

Semua tumbuhan itu mengandung kadar selenium tinggi. Namun, yang tertinggi adalah Allium sativum 1NHR, yang diisolasi dari daerah Sembalun, Gunung Rinjani. Bawang yang diberi kode isolat 1NHR itu memiliki kandungan selenium tertinggi, yaitu 3,55 ppm, sehingga punya daya antioksidasi yang tinggi. Berbeda dengan ekstrak selenium herba Sonchus arvensis 35 NHR dari Rinjani dan ciplukan Physalis minima 33NHR dari Lombok, dua isolat ini menunjukkan daya modulasi apoptosis yang lebih tinggi. Apoptosis adalah proses kematian sel yang terprogram melalui mekanisme pengacau sinyal sel kanker secara genetis supaya sel-sel itu mati. “Ciplukan lebih baik digunakan untuk terapi kanker,” kata Novik. “Kalau kita sudah menderita kanker, selenoproteinnya digunakan untuk menghentikan dan menghambat pertumbuhan sel kanker melalui induksi apoptosis.”

Peneliti kelahiran Bandung, 26 November 1966, itu juga menemukan aktivitas antikanker pada bakteri termofilik Thermomicrobium 14Ka dan Geobacillus 20Ka. Mikroba diambil dari tiga sumber air panas: Air Kalak, Gunung Rinjani, pada ketinggian 2.450 meter; Semurup di Gunung Kerinci setinggi 815 meter; dan Rantepao, Toraja. “Inti penelitian kita yang sebenarnya adalah bakteri ini, karena belum dieksplorasi,” kata Novik.

Bakteri termofilik ini amat unik karena bisa berinteraksi dengan selenium. “Ada beberapa di antara mereka yang mampu bertahan terhadap toksisitas selenium,” katanya. “Selenium di sumber air panas kan tinggi, tapi dia masih bisa hidup.” Ternyata bakteri dan herba dari daerah vulkanis ini mampu mengubah bentuk selenium yang toksik menjadi tidak beracun. Mekanisme inilah yang menjadi kunci penelitian Novik dan timnya. “Kami anggap bakteri itu punya mesin,” katanya. “Mesinnya ini yang mengubah selenium toksik menjadi nontoksik dengan bantuan enzim.”

Bagi bakteri, mekanisme itu adalah bentuk pertahanan tubuh. “Tapi bagi kita itu bisa dimanfaatkan untuk kepentingan pencegahan, terapi kanker,” kata Novik. “Atau bertindak sebagai antioksidan pada bakteri Thermomicrobium 14Ka, mengurangi oksidan berupa mutagen penyebab kanker, dan memperbaiki sel yang rusak.”

Novik optimistis selenoprotein dari bakteri penyuka suhu panas ini bisa mereduksi senyawa karsinogenik. “Berarti kita bisa mencegah terbentuknya kanker,” ujarnya. Sebaliknya, isolat bakteri Geobacillus 20Ka menunjukkan daya apoptosis yang relatif tinggi. Sehingga Novik mengangkat bakteri ini sebagai kandidat studi mekanisme modulasi apopotosis di level ekspresi gen. Novik menyatakan peluang antikanker dari bakteri termofilik ini amat besar.

Apalagi gen dari bakteri itu punya kestabilan yang lebih tinggi dibanding bakteri lain terhadap temperatur tinggi. Terbuka kesempatan untuk mengisolasi atau mengklon gen pengontrol aktivitas antikanker ini ke makhluk lain, baik bakteri maupun tumbuhan lain, secara transgenik. “Lebih mudah mengisolasi proteinnya,” kata Novik. “Daripada harus mengambil dari bakteri termofilik yang cukup sulit ditumbuhkan karena punya syarat hidup temperatur dan makanan yang khusus,” katanya.

Novik berharap, dalam tiga tahun ke depan, riset ini telah tuntas sampai ke tahap uji klinis. Temuan ini bisa menjawab tantangan Badan Kesehatan Dunia untuk mencari obat ampuh kanker yang sudah menjadi pembunuh nomor dua di dunia.(*)

2 Comments »
  • Bagaimana mekanisme apoptosis dalam mencegah kanker? Mohon dijawab.

    Comment by Abu Muhammad — November 27, 2006 @ 7:12 am

  • Tolong diberikan resep/dosis/aturan pakainya sekalian dong! Dan untuk pengobatan kanker apakah bawang putih/ciplukan/benalu teh/tempuyung/terong-terongan, dll itu? Tolong dijelaskan lebih detail supaya lebih bermanfaat secara langsung bagi masyarakat.

    Comment by Titah — December 1, 2006 @ 6:48 am

  • Leave a comment








    Recent Comments
    » LALU SERINATA MENOLAK DIBAWA KE KEJARI MATARAM
    11/27/2008 03:47 pm | 10 Comments
    » KPI CEGAH TAYANGAN KEBANCI-BANCIAN
    11/26/2008 09:36 pm | 1 Comment
    » PEJABAT TERLAMBAT DATANG, PINTU RUANGAN DITUTUP
    11/26/2008 06:25 pm | 3 Comments
    » BEASISWA NEWMONT NUSA TENGGARA UNTUK 8.493 SISWA
    11/26/2008 01:26 pm | 3 Comments
    » PNS SE NTB DIPERIKSA KESEHATANNYA
    11/25/2008 09:18 pm | 1 Comment
    Lomboknews.com - 2007 - Media Lombok - Developed by andiraweb.com | busby seo challenge