MATARAM - Selama bulan Agustus 2006, terjadi 149 kali gempa di lingkungan wilayah Pusat Gempa Regional III yang berkedudukan di Denpasar. Berdasarkan kedalamannya, didominasi oleh gempa dengan kedalaman dangkal kurang dari 60 kilometer sebanyak 97 kali gempa, disusul 41 kali gempa menengah kedalaman hingga kurang dari 300 kilometer, dan 11 kejadian gempa dalam yang pusatnya lebih dari 300 kilometer.
Pelaksana Harian Balai Kepala Balai Besar Meteorologi dan Geofisika Wilayah III Denpasar Sutrisno mengemukakannya sewaktu dihubungi, Sabtu (23/9).Selama bulan Agustus terjadi delapan kali didominasi aktivitas gempa dangkal. ”Sebarannya di samudera Hindia selatan Sumbawa,” ujarnya.
Sedangkan sebaran gempa dalam di atas 300 kilometer terjadi 11 kali dan tidak terkonsentrasi di suatu tempat, terjadi di sepanjang busur kepulauan Sumbawa hingga Flores.Sesuai faktor penyebabnya, yaitu subduksi lempeng dalam di atas 300 kilometer
Berdasar kekuatannya, 10 kali gempa berkekuatan lebih 5,0 skala richter (SR), 62 kejadian berkekuatan 4-5 SR dan 77 kejadian berkekuatan kurang dari 4 SR.
Menurut Sutrisno, sering terjadinya gempa di sekitar daratan dan laut sekitar Sumbawa dangkal yang sumbernya pada kedalaman kurang dari 300 kilometer akibat aktivitas patahan aktif. Kebanyakan gempa disebabkan tumbukan lempeng Indo-Australia terhadap lempeng Eurasia di zona penyusupan dangkal (zona megatrust) dan zona penyusupan dalam (zona Benioff).
Untuk mengatasi kemungkinan terjadinya gempa yang menimbulkan tsunami di pantai selatan Sumbawa, Pemerintah Kabupaten Sumbawa bekerja sama dengan Dinas Pertambangan dan Energi Nusa Tenggara Barat (NTB) menyuluh masyarakat di daerah Kecamatan Lunyuk, Sabtu (23/9). Daerah tersebut rawan gempa bumi dan pernah dilanda tsunami pada tahun 1977.
Wakil Kepala Dinas Pertambangan dan Energi NTB Heriyadi Rachmad mengingatkan rawannya gempa tersebut karena karena terletak pada batas lempeng Australia di selatan, Eurasia di utara dan lempeng Pasifik di bagian timur. Pertemuan lempeng ini membentuk suatu zona lemah yang ditunjukkan adanya untaian gunung api yang ada di Sumatera, Jawa, Flores dan sebelah timur berbelok ke Sulawesi, Maluku, Filipina, Jepang dan sampai ke Amerika Selatan.
Sebelumnya, Direktur Jenderal Bina Pembangunan Daerah Syamsul Arief Rivai mengingatkan Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dan Nusa Tenggara Barat (NTB) adanya ancaman gempa bumi. Melalui surat bernomor : 361/624/IV/Bangda Tanggal 18 Mei 2006 perihal bencana alam di Sumbawa Selatan dan Meulaboh NAD menyebutkan bahwa kedua daerah tersebut rawan gempa bumi.
Lokasinya terutama pada daerah yang tersusun oleh endapan kuarter yaitu endapan aluvial, endapan pantai, endapan sungai, endapan rawa dan endapan rombakan gunung api. ”Agar dilakukan kordinasi untuk menanggulangi kejadian gempa bumi,” ujarnya dalam suratnya tersebut.
Peringatan dari Mendagri tersebut, merupakan tindak lanjut surat dari Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Nomor : 646/4202/PVG/2006 tanggal 2 Mei 2006 yang menanggapi kejadian gempa bumi di Sumbawa Selatan, 30 April 2006 dan dan surat nomor : 647/4202/PVG/2006 tanggal 2 Mei 2006 juga terjadinya gempa yang sama waktunya, 30 April 2006 di Meulaboh.
Syamsul Arief Rivai meminta ditingkatkannya kegiatan sosialisasi bencana gempa bumi serta pelatihan penyelamatan awal dan diteksi dini. Selain itu, juga meminta dibuatnya peta jalur arah dan lokasi pengungsian jika sewaktu-waktu terjadi gempa bumi. Sedangkan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara juga diminta membuat peta zona kerawanan gempa bumi dengan skala rinci di wilayah perairan barat Sumatera Utara sebagai data dasar dalam menyusun Rencana Tata Ruang dan Rencana Tata Ruang Wilayah.
Tahun 1977, di pantai selatan Lunyuk Kabupaten Sumbawa telah terjadi gempa bumi sebesar 8,2 skala richter yang menghancurkan beberapa desa di sekitarnya. Gempa bumi juga pernah menghancurkan ratusan rumah pernah terjadi di Kecamatan Huu Kabupaten Dompu, 23 Januari 2003. Setahun kemudian, awal Januari 2004, juga terjadi gempa bumi di pulau Lombok yang merusak ratusan rumah, pusatnya berasal dari Selat Lombok.
Mekanisme terjadinya tsunami, kalau di laut terjadi gejala tektonik patahan seperti yang terlihat keluar energi dalam bentuk gempa lebih dari 6 skala richter akan diikuti tsunami.
Jadi, dikatakan oleh Heriyadi Rachmat, kalau terjadi tanda-tanda seperti itu, maka masyarakat yang ada di pantai harus mewaspadainya. Apabila terjadi surut air laut di pantai hingga beberapa ratus meter, yang sebelumnya tidak pernah terjadi menandakan adanya gejala yang menunjukkan akan adanya tsunami. ”Bau garam yang sangat keras, itu juga menandakan timbulnya gejala tsunami,” ujarnya. (supriyantho khafid)


