MATARAM - Selama empat hari sejak Sabtu (16/9) lalu, warga kota Mataram dan sepulau Lombok panik karena kelangkaan minyak. Antrian panjang terjadi di 27 SPBU yang tersebar di empat kota-kabupaten se pulau Lombok. Harga eceran meningkat menjadi Rp10 ribu per liter. SPBU Primkopal Ampenan yang semestinya sehari memerlukan 4 kiloliter atau 40.000 liter oleh Depo Pertamina hanya diberikan jatah 16 kiloliter atau 16.000 liter saja.
Panjangnya antrian sejak pagi sebelum dimulainya pelayanan terlihat di SPBU yang terletak di Mayura, Karang Jangkong, Kekalik, Primkopal dan di Pelembak Ampenan. Di SPBU Primkopal, sejak pagi pompa pelayanan motor sudah habis sehingga dialihkan antriannya bergabung menjadi satu dengan pelayanan kendaraan roda empat. Di sini, pada pukul 09.00 pagi, antrian terbentuk dua arah dari timur dan barat masing-masing sepanjang 150 meter.
Seorang karyawan Sekretariat Daerah Nusa Tenggara Barat di Mataram Hasrul terpaksa meninggalkan mobilnya di SPBU Bunut Bawak Kecamatan Gerung Kabupaten Lombok Barat sekitar 20 kilometer, karena kesulitan antrian panjang. ”Supaya bisa ke kantor saya beli bensin seliter Rp10 ribu di pinggir jalan,” ucapnya. Di Mataram, pengecer yang mengaku membeli premium di SPBU pinggiran kota menjualnya Rp6 ribu.
Kordinator SPBU Primkopal Petrus Lexi mengaku jatah yang diberikan sehari hanya 16 KL. Padahal normalnya memerlukan 40 KL. Selasa pagi, ia baru mendapatkan distribusi sebanyak 8 KL. ”Ketiadaan premium ini cepat sekali diketahui warga sehingga ramai-ramai ngantri,” ujarnya.
Kepala Depo Pertamina Ampenan Shodikun Syahroni menyangkal kelangkaan premium. Sebab, persediannya sebanyak 3.000 KL. ”Masyarakat membeli karena panik. Ada isu yang berasal dari orang yang tidak bertanggung jawab,” katanya.
Suplai premium selama tiga hari terakhir ini dilakukan oleh Terminal Transit Manggis di Karang Asem Bali. Pada hari Ahad (17/9) sudah tiba 400 KL dan Selasa (19/9) sedang bongkar muatan 3.000 KL.(supriyantho khafid)


