MATARAM - Meskipun tiga indikatornya meningkat, indeks pembangunan manusia (IPM) Nusa Tenggara Barat (NTB) tetap di urutan belakangdi Indonesia. NTB berada di peringkat 32, kalah dari Irian Jaya Barat yang baru dibentuk dan hanya menang terdepan dibanding Propinsi Papua. Sebab angka harapan hidupnya masih rendah hanya 60,5 tahun, angka melek hurufnya 78,8 persen dan rata-rata lama sekolahnya hanya 6,4 tahun atau hanya sekolah hingga kelas satu SMP saja.
Kepala Badan Pusat Statistik NTB Martanius Moechtar mengemukakan posisi NTB tersebut kepada wartawan, Selasa (19/9). Meskipun indikatornya meningkat tetapi kalah maju dibanding daerah lain. ”Indikatornya naik tapi daerah lain lebih maju,” ucapnya. Urutan belakang IPM NTB ini dipertanyakan karena sewaktu pemerintahan ditangan Gubernur NTB Harun Al Rasyid periode 1998-2003 dinyatakan menaik peringkatnya dari semula di belakang menjadi 24. Dilihat dari antar kabupaten-kota se Indonesia, yang terbelakang adalah Kabupaten Lombok Barat di urutan 432, Lombok Tengah (431), Bima (413). Sedangkan Mataram sebagai ibu kota NTB di urutan ke-192.
Sedangkan jumlah penduduk miskin di NTB semakin bertambah banyak. Kalau tahun 2005 sebelumnya 1.033.348 jiwa atau 24,94 persen dari keseluruhan penduduknya menjadi 1.126.672 jiwa atau 26,46 persen. ”Peningkatan ini cukup besar tambahannya,” katanya.
Kemiskinan terbanyak di Kabupaten Lombok Barat 32,21 persen atau 252.170 jiwa dari keseluruhan penduduknya 782.943 jiwa. Di urutan kedua Kabupaten Dompu 27,87 persen atau 57.531 jiwa dari keseluruhan penduduknya 206.414 jiwa. Dan Kabupaten Lombok Timur 27,44 persen atau 289.062 jiwa dari keseluruhan penduduknya 1.053.347 jiwa.
Adapun rumah tangga penerima bantuan langsung tunai sebagai kompensasi kenaikan harga BBM di NTB jumlahnya sebanyak 567.605. Adapun rinciannya rumah tangga hampir miskin 125.969, miskin 259.907, dan sangat miskin 81.729.(supriyantho khafid)


