MATARAM – Tokoh Dewan Kesenian Jakarta Ratna Sarumpaet meminta kesenian teater dicantumkan dalam kurikulum bukan sebagai materi ekstra kurikuler. Sebab, kesenian ini adalah mengisi roh manusia sebagai kelengkapan pembangunan moral disamping tugas para ulama dan rohaniwan. Ia meminta agar kesenian itu tidak pernah dianggap tidak penting. Kalau tidak, jangan pernah berharap bahwa negara Indonesia bisa menjadi bagus. Ia mengemukakannya sewaktu berbicara bersama para pegiat seni di Taman Budaya Nusa Tenggara Barat, Sabtu (10/9) malam lalu. Ia hadir menyaksikan pentas Teater Kamar Indonesia yang menampilkan Hikayat Gajah Duduk di sela acara liburannya bersama keluarga di Lombok. Katanya, ini yang harus diperjuangkan. ”Saya sudah membujuk bagian kurikulum di Departemen Pendidikan Nasional supaya masuk kurikulum sejak awal. Bukan ekstra kurikuler,” ucapnya. Disebutkannya bahwa pelajaran kesenian dianak tirikan oleh guru-guru yang hanya memilih paduan suara. Lebih banyak hanya kegiatan paduan suara yang konotasinya bersih. Tidak seperti berkegiatan teater yang dikonotasikan menjadi kumuh, menjadi pemberontak dan takut menjadikan anak-anaknya memberontak. Kita mendidik anak tidak bicara independen. ”Ini persoalan karena kultur konsep pendidikan di Indonesia. Anak-anak tidak boleh melawan berdebat,” ujarnya. Padahal, bermain teater mendidik anak-anak menjadi cerdas. Karena menuntut kemungkinan berdialog. Tidak seperti di dalam lingkungan keluarga di Indonesia yang disebutnya tidak terjadi dialog. Di negara maju, katanya, teater bukan ekstra kurikuler. Karena teaterlah yang memberikan kemampuan tampil, pikiran, mengartikulasikan unek-unek dan banyak hal yang bisa diberikan kepada anak. Di Amerika Serikat, Australian Eropah, Canada dan Jepang, bicara soal teater. Ketika dari usia dini mereka sudah dididik teater. Selain itu, dimintanya pula para seniman tidak menjadi katak dalam tempurung hanya berkarya dan melakukan pentas di panggung pertunjukan di lokasi yang tersedia seperti Taman Budaya. Tetapi lebih dari itu, seniman haruslah tidak lepas dari persoalan negara dan memiliki kepedulian kepada rakyat di sekitarnya. Karena itu, sekali waktu seniman bisa melakukan pentas pertunjukan ataupun melakukan aksi di DPRD. Sikap yang dikemukakan oleh Ratna Sarumpaet sebagai seniman nasional yang menyatakan dirinya sudah ”berumur”. Katanya, kecenderungan seniman kita ini menyerahkan urusan negara kepada pemerintah. Padahal, seniman itu baru bisa menjadi istimewa kalau dapat berbuat sesuatu yang berharga untuk rakyat. Ia menyatakan surprise sewaktu berada di pertemuan seniman internasional di Athena beberapa waktu lalu. Ini karena mereka ingin ke Indonesia pada pertemuan penulis teater perempuan di Jakarta Nopember 2006 mendatang menyatakan ingin mencari bentuk teater Indonesia. ”Di mata mereka, Indonesia sebagai pusat teater terkaya di muka bumi,” ujarnya dalam dialog. Katanya, ia diminta untuk memperkenalkan tari topeng, wayang orang, dalang yang selama ini kurang dihargai di negeri sendiri padahal sebagai basic teater tradisi Indonesia Yang seharusnya memberikan warna dari teater Indonesia. ”Ketimbang kita terus menoleh ke cara berpikir lama,” ucapnya kemudian. Meskipun dirinya tergolong tua, diakuinya merasa terganggu kalau terus menerus berpijak kepada Bertolt Brech (Jerman) atau yang atau karya teater lain yang dianggap sebagai landasan dari teater modern. ”Kita harus memutar panggung menjadikan Indonesia justru ke depan menjadi tolok ukur perubahan teater dunia,” katanya. Ia mengajak Indonesia bisa menjadi cerminan teater dunia. Ini dimungkinkan, menurutnya, karena selama ini para penyanyi barat pun yang terus mencari nuansa dan spirit Asia yang sangat ritual dan sacral yang tidak dimiliki negeri barat. Saat ini disebutkannya malahan seniman kita mencari barat yang dinilainya kering. Mereka ke Jepang, Cina dan Indonesia. Di sini ada Sigale-gale atau Gapo, wayang orang, wayang golek dan wayang kulit. ”Kita punya teater terkaya di seluruh republik ini,” katanya. Disesalkannya bahwa selama ini teater tradisi itu disepelekan menjadi pembicaraan sambil lalu. Selama ini pun pemerintah di daerah kurang tanggap terhadap kegiatan berkesenian. Yang dimaksudnya, adalah ketersedian fasilitas lokal pentas yang memadai. Di Medan sebagai kota ketiga terbesar di Indonesia, pentas bisa terganggu suara kursi reot yang mirip bis kota di Jakarta. Semestinya, tersedia anggaran khusus kesenian. Itu sebabnya, Ratna Sarumpaet mengajak para seniman berontak agar tidak menjadi peminta sumbangan. Ia tidak mengingkari adanya penjejalan terhadap teater luar. Sebagai tolok ukur referensi tidak ditabukannya. Namun diajaknya para seniman Indonesia untuk bangkit berkrativitas secara original. ”Jangan ke barat jangan ke timur. Jadilah Indonesia,” ujarnya. Kemudian disinggungnya masalah produksi India dan Cina yang menguasai perfileman di Indonesia. Dikatakan bahwa dirinya tidak ingin rasis, tetapi dikehendakinya agar dilakukan peneguran kepada mereka yang hanya mengejar keuntungan dari pembuatan filem sinetron dan yang lainnya. ”Dia hanya menyumbangkan sampah setiap hari. Sampah-sampah itu m asuk ke rumah tanpa minta izin,” ucapnya seraya menyebutkan bahwa sebenarnya sebagai pemirsa telah dijual untuk mendapatkan rating. Mengenai perfileman, diajaknya para produser Indonesia tidak perlu menyaingi Amerika Serikat. Yang ada hantu-hantunya saja. Namun bisa membuat filem lokal seperti misalnya tentang Siti Nurbaya atau Jenderal Sudirman. Yang disebutnya itu dikatakan tidak pernah muncul. ”Ini kritik saya kepada dunia filem,” katanya. Diingatkannya, sewaktu terjadi politik monopoli filem, para seniman filem marah karena menjatuhkan produksi filem Indonesia. Tetapi setelah kejatuhan pemerintahan Soeharto, seniman filem tidak melakukan apa-apa. Kenyataannya dimana-mana masih dikuasai kelompok 21.(supriyantho khafid)


